
Yuyun Ismawati adalah salah satu pendiri dan Penasihat Senior untuk Nexus for Health, Environment and Development Foundation (Nexus3). Yuyun seorang aktivis dan peneliti di bidang kesehatan lingkungan. Dia penerima 2009 Goldman Environmental Prize. Di tingkat global, Yuyun merupakan anggota Dewan Pengarah IPEN, BFFP, WECF, ICEL, dan Perkumpulan Prakarsa. Yuyun bergelar Sarjana Teknik Lingkungan dari Institut Teknologi Bandung dan MSc Environmental Change and Management dari Universitas Oxford.

Hermawan, atau Wawan Some, merupakan anggota Steering Committee Aliansi Zero Waste Indonesia (AZWI) sekaligus Koordinator dan Community Organizer Nol Sampah Indonesia, tempatnya bekerja selama 17 tahun. Wawan memiliki latar belakang Sarjana Sains Biologi dari Universitas Airlangga (UNAIR) dan pengalaman selama enam tahun di bidang jurnalistik. Ia juga pernah menjadi Konsultan dan Fasilitator Lingkungan untuk Kementerian PUPR selama delapan tahun, serta bekerja di LBH APIK NTB dan Urban Poor Linkage (UPLINK) dalam program penataan permukiman di Strenkali Surabaya. Komitmennya pada isu lingkungan perkotaan membawanya mengikuti International Visitor Leadership Program (IVLP) on Sustainable Cities dari U.S. Department of State di sejumlah kota di Amerika Serikat. Hingga kini, Wawan aktif dalam edukasi lingkungan dan pendampingan masyarakat akar rumput lintas sektor, dengan memadukan pengetahuan sains, pengalaman jurnalistik, dan praktik langsung di komunitas.

Wahyu Eka Styawan, merupakan anggota Steering Committee AZWI sekaligus bekerja di Eksekutif Nasional WALHI sebagai Kepala Pusat Pengelolaan Pengetahuan. Lulusan Sarjana Psikologi dari Universitas Airlangga (UNAIR), Magister Sosiologi Pedesaan dari Universitas Brawijaya (UB), pernah mengikuti dan short course Environmental History di UGM. Ketertarikannya yang mendalam pada isu ekologi telah membawanya aktif dalam gerakan lingkungan hidup dan riset kebijakan selama 10 tahun dengan berkiprah di WALHI Jawa Timur sebagai Direktur Eksekutif Daerah dan saat ini di Eksekutif Nasional WALHI. Wahyu juga aktif menulis opini dan melakukan riset baik di media nasional maupun jurnal ilmiah, juga memiliki pengalaman sebagai dosen luar biasa di beberapa kampus seperti UNAIR dan UB. Bagi Wahyu, persoalan lingkungan khususnya persoalan sampah dan krisis lingkungan bukan hanya masalah tata kelola teknis, melainkan isu keadilan sosial dan ruang hidup yang menuntut tanggung jawab penuh negara serta korporasi—terutama dalam menghentikan solusi-solusi palsu yang merusak lingkungan.

Dr. Daru Setyorini, M.Si. merupakan anggota Steering Committee Aliansi Zero Waste Indonesia (AZWI) sekaligus Direktur Eksekutif ECOTON Foundation. Daru memiliki latar belakang Biologi dari Universitas Airlangga (UNAIR), Magister Ilmu Lingkungan dari Universitas Indonesia (UI), dan Doktor Ilmu Lingkungan dari Universitas Brawijaya (UB). Selama lebih dari dua dekade, ia aktif dalam konservasi sungai, pengendalian pencemaran, pengelolaan sampah, zero waste, serta riset dan advokasi pencemaran plastik dan mikroplastik. Pada 2013, ia mewakili ECOTON menerima Penghargaan Kalpataru atas kontribusi organisasi dalam konservasi sungai dan lahan basah. Pada 2025, ia terlibat dalam penelitian ECOTON bersama WIOEH Korea Selatan dan Fakultas Kedokteran UNAIR yang menemukan 23 bahan kimia terkait plastik dalam sampel darah dan urin perempuan pekerja pemilah sampah di Gresik. Di tingkat global, Daru aktif membawa isu pencemaran plastik Indonesia, termasuk melalui INC-5.1 Global Plastics Treaty di Busan, dengan mendorong pengurangan produksi plastik, sistem guna ulang, penghentian perdagangan sampah plastik, serta penghapusan bahan kimia berbahaya dalam plastik.

David Sutasurya merupakan anggota Steering Committee Aliansi Zero Waste Indonesia (AZWI) sekaligus pendiri Yaksa Pelestari Bumi Berkelanjutan (YPBB). Lulusan Biologi Institut Teknologi Bandung (ITB), David telah lama mendorong penerapan sistem Zero Waste di Indonesia. Pada 2001, ia menerima Ashoka Fellow atas dedikasinya dalam membangun gerakan perubahan sikap dan perilaku masyarakat untuk pelestarian lingkungan. Pada 2018–2019, David menjadi bagian dari Komite Penasihat Regional Global Alliance for Incinerator Alternatives (GAIA) dan hingga kini berperan sebagai penasihat serta tenaga ahli dalam kajian, penyusunan rencana induk, dan regulasi pengelolaan sampah di Indonesia. Pada 2023, melalui Bandung Zero Waste Forum, ia turut mendorong kebijakan pelarangan sampah organik masuk ke TPA Sarimukti pascakebakaran yang menghanguskan hampir 20 hektare area TPA. Upaya tersebut berkontribusi pada terbitnya Instruksi Gubernur yang menetapkan hanya sampah residu yang diperbolehkan masuk ke TPA Sarimukti mulai 1 Januari 2024, yang disebut sebagai kebijakan pertama di Indonesia dan Asia Tenggara.

Tiza Mafira, S.H., LL.M., merupakan anggota Steering Committee Aliansi Zero Waste Indonesia (AZWI) lulusan Fakultas Hukum Universitas Indonesia (2002) dan Harvard Law School (2010), ahli hukum dan kebijakan lingkungan, fokus pada perubahan iklim dan pengelolaan sampah. Sejak 2013, Tiza mendirikan dan menjadi Direktur Eksekutif Gerakan Indonesia Diet Kantong Plastik (GIDKP) yang kini bernama Dietplastik Indonesia, NGO yang membatasi plastik sekali pakai lewat kesadaran masyarakat dan perubahan kebijakan. Berhasil mempengaruhi 50+ kota di Indonesia, termasuk Jakarta dan Bali untuk melarang kantong plastik. Tiza meraih penghargaan termasuk UN Ocean Hero (2018), Anugerah Revolusi Mental Pemerintah Republik Indonesia (2019), Indika Energy Award (2019), Gen.T Award pemimpin masa depan Asia (2020), Women of The Year Her World Indonesia (2021). Tiza terlibat dalam film dokumenter "The Story of Plastic" (2019), yang meraih Emmy Award 2021, serta "Pulau Plastik" (2021). Sehari-hari Tiza juga aktif memimpin Climate Policy Initiative Indonesia, lembaga riset (think thank) nirlaba yang fokus dalam analisis kebijakan perubahan iklim, lahan, energi terbarukan. Sebelumnya dia berpengalaman di Makarim & Taira S (6 tahun), Boston, McKinsey & Co, dan Kantor Staf Khusus Presiden periode pertama Susilo Bambang Yudhoyono.

Titik Eka Sasanti, S.Pt. merupakan anggota Steering Committee Aliansi Zero Waste Indonesia (AZWI) sekaligus Direktur Program Gita Pertiwi. Ia merupakan praktisi pembangunan dan pengembangan masyarakat dengan pengalaman lebih dari 20 tahun di bidang sistem pangan berkelanjutan, pemberdayaan masyarakat, lingkungan, gender, serta penguatan kapasitas organisasi dan kelompok masyarakat. Titik berpengalaman sebagai Wakil Ketua Forum Kota Sehat Surakarta, Sekretaris Komite Cerdas Pangan Kota Surakarta, fasilitator pengembangan pangan dan pertanian berkelanjutan, serta konsultan GEDSI dan multi-stakeholder dialogue. Ia juga terlibat dalam penelitian terkait kebijakan beras berkelanjutan serta gender dan inklusi sosial dalam sistem pangan perkotaan di berbagai wilayah Indonesia. Atas kontribusinya di bidang pangan, ia menerima penghargaan Mitra Terkonsisten dalam Penyelamatan Pangan dari BAPANAS (2024) dan Widya Bhakti UNISRI sebagai Tokoh Inspiratif Bidang Pangan (2024).

Catur Yudha Hariyani, merupakan anggota Steering Committee Aliansi Zero Waste Indonesia (AZWI). Perempuan asal Jawa Timur ini sudah 25 tahun menetap di Bali dan menjadi direktur Pusat Pendidikan Lingkungan Hidup Bali. Berlatar sarjana pertanian dengan jurusan Agribisnis, Catur sudah bekerja pada isu sampah sejak tahun 1998 hingga saat ini. Pendekatannya melalui pendidikan lingkungan ke sekolah-sekolah, kampus dan komunitas masyarakat (banjar, pengajian dan sekolah minggu). Menyusun modul/kurikulum dengan guru-guru tentang lingkungan juga melakukan pendampingan pengelolaan sampah di sekolah dan pilot project di beberapa desa-desa sekitar Bali.

Muharram Atha Rasyadi merupakan anggota Steering Committee Aliansi Zero Waste Indonesia (AZWI) sekaligus Ketua Tim Kampanye Sosial dan Ekonomi Greenpeace Indonesia. Ia mengawali kiprahnya sebagai juru kampanye urban dengan fokus pada isu plastik sekali pakai, dan kini turut memimpin berbagai inisiatif kampanye terkait keadilan iklim, isu perkotaan, serta kampanye lingkungan berbasis pendekatan keagamaan. Atha merupakan lulusan S1 Psikologi Universitas Indonesia (UI) dan S2 International Development dari University of Bristol. Selain advokasi lingkungan, ia memiliki pengalaman dan ketertarikan pada isu kemanusiaan dan kerelawanan.