Surakarta, 5 Desember 2025 – Pasar tradisional sebagai salah satu pusat kearifan pangan lokal, sering menjadi destinasi berbelanjaan mulai dari sayur, buah, hingga makanan atau jajanan. Akan tetapi, kondisi tersebut seringkali menjadi tantangan tersendiri dalam pengelolaan sampah. Bahkan pasar tradisional menjadi salah satu penyumbang sampah terbesar ke TPA. Kementerian Lingkungan Hidup mengungkapkan 13,5 persen sampah di TPA berasal dari pasar tradisional. Tak luput menghadapi tantangan yang serupa, di Kota Surakarta pengelolaan sampah pasar masih menggunakan sistem kumpul angkut buang. Sistem tersebut memperburuk tingginya timbulan sampah TPA yang saat ini masih menggunakan open dumping tanpa adanya pengelolaan lebih lanjut. Tidak jarang juga pasar tradisional di anggap sebagai tempat yang kumuh dan tidak bersih.
Namun, stigma tersebut perlahan dipatahkan oleh pedagang dan pengelola Pasar Jebres. Melalui kolaborasi strategis antara Gita Pertiwi dan Dinas Perdagangan Pasar Jebres kini bertransformasi menjadi model pasar rakyat minim sampah yang berwawasan lingkungan. Sejak di launching pada 3 Desember 2024, pasar ini sudah menunjukan perubahan sedikit demi sedikit dalam mengurangi timbulan sampah.
Hasil riset yang dilakukan Gita Pertiwi menunjukan dari kegiatan pasar minim sampah penggunaan kemasan plastic sekali pakai berkurang 14% dari 83 pcs/pedagang/hari menjadi 71 pcs/pedagang/hari. Selain itu saat ini ada keranjang pemanfaatan pangan berlebih dari dagangan yang tidak terjual tapi masih layak konsumsi. Kurang lebih 600 kg pangan berlebih berupa sayur, buah, dan lauk terselamatkan hingga di salurkan pada panti, komunitas berbagi, dan pemulung. Belum lagi adanya bank sampah yang mengelola sampah anorganik pedagang dan sampah organiknya. Walaupun sudah ada perubahan, upaya penyadaran terus dilakukan agar dapat menyeluruh dilakukan oleh setiap aktor pasar.
Momentum perubahan ini menjadi daya tarik tersendiri dari pasar rakyat yang dapat mengelola sampah dari sumber. Bahkan program ini menjadi daya tarik nasional yang ditandai dengan pelaksanaan GERNASMAPAN (Gerakan Nasional Membersihkan Pasar Nusantara) dari Kementerian Perdagangan. Kegiatan yang berlangsung pada Selasa, 5 Desember 2025 ini melibatkan pedagang pasar, pengelola pasar, hingga masyarakat sekitar. Pasar Jebres dipilih untuk pelaksanaan GERNASMAPAN, karena memiliki model unik yaitu pasar minim sampah. Kegiatan nasional ini menjadi kolaborasi antara Kementerian Perdagangan dan Pemkot Surakarta dengan Gita Pertiwi.
Kegiatan yang terdiri dari dengan sekolah pasar rakyat dan aksi bersih pasar ini menjadi Langkah awal untuk meningkatkan kesadaran pedagang, pengelola pasar, dan pengunjung pasar dalam menjaga kebersihan.
Sekolah Pasar: Mengubah Pola Pikir Pedagang
Pasar Jebres bukanlah pasar baru; pasar ini telah berdiri selama 40 tahun dengan pedagang yang rata-rata telah berjualan selama 10-15 tahun. Tantangan terbesar dalam modernisasi pasar tua adalah mengubah kebiasaan lama.
Dalam sesi Sekolah Pasar Rakyat, Gita Pertiwi yang hadir sebagai narasumber menekankan pentingnya tidak hanya memilah, tetapi juga mengelola sampah. Berdasarkan temuan di lapangan, pedagang Pasar Jebres sebenarnya sudah memahami perbedaan sampah organik dan anorganik. Namun, masih ada beberapa pedagang yang terkendala tentang cara memanfaatkan sampah terutama sampah organik yang paling banyak dihasilkan pedagang pasar.
Selain fokus pada organik, dalam sekolah pasar juga menyoroti bahaya laten sampah plastik. Edukasi yang diberikan membuka mata para pedagang bahwa penguraian plastik memakan waktu sangat lama dan berisiko menghasilkan mikroplastik serta zat karsinogenik yang berbahaya bagi kesehatan.

Salah satu momen paling krusial dalam sesi Sekolah Pasar Rakyat ini adalah ketika materi mengenai dampak sampah plastik dipaparkan. Gita Pertiwi, selaku narasumber, membuka wawasan pedagang tentang bahaya tersembunyi di balik kantong kresek dan kemasan yang mereka gunakan sehari-hari.
Banyak pedagang yang tampak terkejut saat mengetahui fakta bahwa proses penguraian plastik memakan waktu sangat lama dibandingkan jenis sampah lainnya. Rasa kaget tersebut bertambah ketika dijelaskan bahwa plastik yang tidak terurai dengan benar akan berubah menjadi mikroplastik dan melepaskan senyawa kimia berbahaya yang dapat memicu kanker, gangguan saraf, dan gangguan pernapasan.
Informasi ini menjadi shock therapy positif yang memicu kesadaran kolektif pedagang untuk lebih sadar dalam mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, seperti botol minum, kemasan blanja plastik dan sedotan plastik.
Para pedagang yang sebelumnya hanya memahami perbedaan dasar antara sampah organik dan anorganik, kini menyatakan kesepakatan dan komitmennya untuk melakukan pengelolaan sampah yang lebih baik. Mereka setuju bahwa sampah pasar, terutama organik yang mendominasi seperti sayuran, bonggol pisang, dan dedaunan, tidak boleh lagi dibuang percuma. Kesepakatan ini mencakup kesediaan pedagang kedepan untuk mengoptimalkan pemilahan sampah dari sumbernya (lapak masing-masing) agar dapat dimanfaatkan kembali.
Aksi Bersih Pasar Bersama Pak Menteri
Kunjungan Menteri Perdagangan dalam rangkaian kegiatan GERNASMAPAN (Gerakan Nasional Membersihkan Pasar Nusantara) di Pasar Jebres menjadi momentum krusial untuk mendorong terciptanya ekosistem pasar yang bersih dan modern. Dalam kunjungan ini, Menteri Perdagangan bersama Kementerian Lingkungan Hidup, Walikota Surakarta dan jajaran dinas terkait meninjau langsung pelaksanaan “Aksi Bersih Sampah” yang melibatkan kolaborasi aktif antara pengelola pasar, pedagang, dan masyarakat sekitar.
“Harapannya dengan kegiatan ini pasar-pasar bersih, tidak becek, dan tidak bau sehingga terhindar dari sampah,” jelas Pak Budi Santoso Menteri Perdagangan Indonesia.
Dalam peninjauan tersebut, fokus utama tertuju pada praktik pasar minim sampah, di mana Menteri melihat langsung potensi pengelolaan limbah organik seperti sayuran dan dedaunan yang mendominasi sampah pasar. Peninjauan ini juga menyoroti integrasi pengelolaan sampah yang tidak berhenti di tempat pembuangan sementara, melainkan dikerjasamakan dengan kelompok pengelola lokal seperti TPS3R dan Bank Sampah Gajah Putih untuk diolah menjadi pupuk. Sampah-sampah organik seperti sisa sayur disalurkan ke unit-unit ini untuk diolah menjadi kompos maupun Pupuk Organik Cair (POC). Langkah taktis ini dinilai sebagai praktik baik yang membuktikan bahwa pasar tradisional mampu bertransformasi menjadi kawasan niaga yang ramah lingkungan dan minim residu sampah.

Model pasar minim sampah tersebut mendapatkan dukungan dan apresiasi dari Bapak Menteri Budi Santoso. Selain itu, Walikota Surakarta Respati Ardi juga mengapresiasi dan berterimakasih terhadap komitmen Gita Pertiwi dalam mendukung upaya zero waste di Kota Surakarta.
“Sampah di Kota Surakarta ini yang ke TPA 70% adalah sampah organik, dan ini yang kami dengan Gita Pertiwi terus galakan untuk mengurangi debit sampah organik ke TPA. Melalui program ini harapannya dapat diterapkan di pasar-pasar lain untuk menyadarkan pedagang pasar akan pentingnya pengelolaan lingkungan hidup atau limbar dari pasar-pasar ini,” kata Respati Ardi Walikota Surakarta.
Praktik baik yang diperkenalkan dalam kegiatan ini adalah konektivitas pengelolaan sampah. Menyadari bahwa sampah organik tidak dapat seluruhnya dikelola di lokasi pasar yang terbatas, solusi kolaboratif pun dimunculkan.
Harapan Pedagang
Kunjungan perwakilan kementerian dan dinas terkait dalam kegiatan ini juga menjadi ajang dialog terbuka. Para pedagang menyampaikan aspirasi agar pasar tradisional tetap hidup di tengah gempuran pasar modern. Salah satu masukan krusial adalah permintaan penertiban pedagang yang berjualan di luar area pasar agar dimasukkan ke dalam pasar, sehingga tercipta persaingan yang adil.
Dengan adanya Sekolah Pasar Rakyat dan integrasi sistem pengelolaan sampah yang baik, Pasar Jebres diharapkan tidak hanya menjadi tempat transaksi ekonomi, tetapi juga ruang publik yang bersih, sehat, dan nyaman bagi warga Surakarta.
Respati juga berharap dan berterimakasih kepada Gita Pertiwi untuk berbagai aksi zero waste yang dilakukan di Kota Surakarta.
“Saya Berterimakasih kepada Gita Pertiwi yang selalu mengupayakan dan mendorong zero waste di Kota Surakarta ini,” ujar Respati.
Kedepan praktik baik Pasar Minim Sampah akan di sebarkan dan bisa diterapkan di seluruh pasar untuk mengurangi sampah yang masuk ke TPA dari pasar-pasar tradisional. (Gita Pertiwi)













