SIARAN PERS
Untuk disiarkan segera
Jakarta, 25 September 2026 — Kongres Regional Kedua tentang Organik dan Perubahan Iklim yang berlangsung di Jakarta pada 23–24 September 2026 dilanjutkan pada hari kedua dengan menyoroti tantangan memperluas berbagai praktik pengelolaan sampah organik berbasis komunitas menjadi sistem pengelolaan sampah kota yang berkelanjutan. Hari kedua kongres mempertemukan pengalaman dari berbagai wilayah Asia Pasifik untuk membahas bagaimana praktik yang telah berjalan di tingkat lokal dapat diperkuat melalui kebijakan, kapasitas, kolaborasi, dan pendanaan jangka panjang.
Dalam Side Event 3, “Forward Linking Municipal Organic Waste”, berbagai praktik yang telah berjalan menunjukkan bahwa Indonesia dan negara-negara di kawasan memiliki sumber daya manusia, teknologi, serta model pengelolaan yang dapat dikembangkan. Namun, banyak inisiatif masih berjalan secara terpisah sehingga membutuhkan pertukaran pengetahuan, peningkatan kapasitas, kemitraan strategis, dan dukungan untuk memperluas praktik.
“Kinerja sistem bergantung pada kesesuaian material, lokasi, operator, dan pasar. Tapi satu hal yang penting, pertukaran informasi, kolaborasi dan juga kemitraan diperlukan agar proyek tidak berjalan sendiri,” kata Ketua Asosiasi Pengelola Limbah Organik Indonesia (APLOI), Tubagus Ari.

Salah satu pengalaman yang dibagikan adalah pengolahan sampah organik menggunakan larva black soldier fly (BSF). Praktik ini menunjukkan bahwa keberhasilan pengolahan tidak hanya ditentukan oleh pilihan teknologi, tetapi juga oleh kemampuan mengelola operasional fasilitas agar berjalan konsisten dan tidak menimbulkan gangguan bagi masyarakat sekitar. Artinya, teknologi perlu dipilih dengan mempertimbangkan kondisi lokal, kapasitas pengelola, serta sistem yang mendukung keberlangsungannya.
Kebutuhan tersebut juga mendorong pengembangan platform organik regional yang dapat mempertemukan pemerintah, komunitas, dan pelaku usaha dengan informasi mengenai pilihan teknologi, biaya, spesifikasi, serta praktik pengolahan organik. Platform ini diharapkan membantu daerah memilih pendekatan yang sesuai dengan kondisi dan kebutuhan masing-masing, alih-alih menerapkan satu teknologi yang sama untuk semua wilayah.
Berbagai pengalaman dari Asia Pasifik memperlihatkan bagaimana penyesuaian dengan kondisi lokal dapat menghasilkan perubahan pada skala kota. Di Siquijor, Filipina, keterbatasan untuk membangun sanitary landfill mendorong pemerintah lokal memperkuat pemilahan dari sumber, pengomposan rumah tangga, pengelolaan sampah pasar, dan fasilitas pemulihan sumber daya. Pendekatan tersebut berhasil mengalihkan hampir 70 persen dari sekitar 9.000 kilogram sampah yang dihasilkan setiap hari. Sebanyak 31 persen sampah dikelola sebagai organik, sementara 41 persen material lainnya dipulihkan untuk didaur ulang.

Di Phnom Penh, Kamboja, pemilahan berbasis komunitas dan pengolahan sampah organik menjadi kompos menunjukkan potensi pendekatan berbasis masyarakat, sekaligus menghadirkan tantangan untuk memastikan dukungan pemerintah dan pendanaan tetap tersedia setelah proyek berakhir. Sementara itu, di Tanzania, model pengelolaan berbasis lingkungan melalui material recovery facility (MRF) telah direplikasi dari satu lokasi ke tujuh komunitas dan empat kota.
Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa memperluas praktik organik bukan sekadar persoalan menggandakan fasilitas atau teknologi. Sistem membutuhkan lingkungan kebijakan, kelembagaan, kapasitas pengelola, dan dukungan masyarakat yang memungkinkan praktik tersebut bertahan dalam jangka panjang. Meski demikian, perubahan tidak selalu harus menunggu sistem yang sempurna. Tasha Theresa dari Zero Waste Malaysia menekankan pentingnya memulai perubahan dari tingkat lokal dan membangun dukungan secara bertahap.
“Kamu hanya perlu mulai, lalu sistem akan mengikuti, orang akan mengikuti, pendanaan akan mengikuti,” ujarnya.
Road to COP31
Dalam Side Event 5, “Road to COP31: Zero Waste, Methane Reduction, and Circularity in the Global Climate Agenda”, pembahasan diarahkan pada bagaimana agenda zero waste dan pengurangan metana dapat diterjemahkan menjadi aksi yang didukung pembiayaan iklim.
Sektor persampahan memiliki peluang besar untuk mengurangi emisi metana dalam jangka pendek, terutama melalui pencegahan food loss and waste, pengolahan sampah organik di sumber, dan pengurangan ketergantungan pada pembuangan akhir. Namun, peluang tersebut membutuhkan mobilisasi pendanaan agar solusi yang telah tersedia dapat diterapkan dan diperluas.

Program Director Waste and Circular Economy Global Methane Hub, Carolina Urmeneta, menekankan bahwa agenda pengurangan metana perlu bergerak dari komitmen menuju implementasi. Karena itu, tantangannya bukan hanya menetapkan target, tetapi memastikan tersedianya pembiayaan untuk menjalankan aksi di lapangan.
Kebutuhan pembiayaan juga perlu dilihat lebih luas dari pembangunan infrastruktur. Global Climate Policy Officer GAIA, Yobel Novian Putra, menyoroti bahwa kesenjangan dalam transisi zero waste bukan hanya terkait ketersediaan solusi, tetapi kemampuan pemerintah daerah, komunitas, dan pekerja sampah untuk menerapkannya secara berkelanjutan.
“Metana kini semakin masuk dalam agenda iklim dan Nationally Determined Contribution (NDC) negara-negara Asia Tenggara, termasuk Indonesia, dengan pergeseran fokus dari pengelolaan di hilir menuju pencegahan sisa dan susut pangan (food loss and waste), pengolahan organik di sumber, serta pelibatan pekerja sampah. Namun, meski arah kebijakan semakin jelas, tantangan utamanya tetap pada implementasi. Ambisi itu seperti kompas, menunjukkan arah tapi bukan lokasi pasti,” tegasnya.
Karena itu, pembiayaan perlu mencakup pemerintah daerah dan komunitas, pekerja sampah, penguatan kapasitas, serta proses perencanaan, bukan hanya investasi fisik. Pendekatan ini penting agar pembiayaan iklim dapat memperkuat perubahan sistem, bukan sekadar membiayai satu proyek atau teknologi.
Di Indonesia, perkembangan kebijakan nilai ekonomi karbon juga mulai membuka ruang bagi dukungan pembiayaan iklim untuk sektor persampahan. Perpres Nomor 110 Tahun 2025 antara lain mencakup instrumen nilai ekonomi karbon, pengendalian emisi gas rumah kaca, serta pendanaan. Namun, Dewan Pengarah AZWI, David Sutasurya, mengingatkan bahwa pembiayaan iklim perlu ditempatkan sebagai bagian dari transformasi sistem pengelolaan sampah, bukan sebagai pengganti upaya pengurangan sampah, pemilahan dari sumber, dan pengolahan organik.

Tentang Organik Congress 2.0
Kongres Regional Kedua tentang Organik dan Perubahan Iklim dapat terselenggara berkat dukungan dari para mitra: The Global Methane Hub, Sequoia Climate Foundation, Urban Movement Innovation Fund, dan Plastic Solutions Fund.
Tentang Dietplastik Indonesia
Dietplastik Indonesia adalah organisasi nirlaba yang mendorong perubahan sistemik untuk mencegah timbulan sampah dan mengurangi emisi sejak dari sumbernya. Berawal dari advokasi nasional untuk mengurangi plastik sekali pakai, kini Dietplastik Indonesia bekerja untuk mendorong perubahan kebijakan, praktik ekonomi, dan pola konsumsi menuju sistem pengelolaan sumber daya yang berlandaskan prinsip guna ulang dan regeneratif. Program unggulan Dietplastik Indonesia—Plastic Free Market, Reuse in Jakarta, MERIT Project, dan FIREFLIES—menghadirkan model solusi yang inklusif dan dapat direplikasi untuk mendorong praktik guna ulang dan regeneratif, sekaligus berkontribusi pada peningkatan kualitas lingkungan, kesehatan masyarakat, dan ketahanan ekosistem.
Tentang Aliansi Zero Waste Indonesia (AZWI)
Aliansi Zero Waste Indonesia (AZWI) adalah koalisi organisasi yang mengadvokasi penerapan
konsep zero waste melalui berbagai program dan inisiatif. AZWI berkomitmen mendorong kebijakan dan praktik pengelolaan sampah yang berkelanjutan berdasarkan hierarki pengelolaan sampah dan pendekatan siklus hidup material. www.aliansizerowaste.id
Tentang GAIA
GAIA adalah jaringan kelompok akar rumput serta aliansi nasional dan regional yang mewakili lebih dari 1.000 organisasi di seluruh dunia. Melalui kerja-kerjanya, GAIA mendorong perubahan global menuju keadilan lingkungan dengan memperkuat gerakan sosial akar rumput yang memajukan solusi atas persoalan sampah dan pencemaran.
GAIA membayangkan dunia yang adil dan zero waste yang dibangun dengan menghormati batas-batas ekologis dan hak-hak masyarakat, di mana masyarakat terbebas dari dampak pencemaran beracun dan sumber daya dilestarikan secara berkelanjutan, bukan dibakar atau ditimbun.www.no-burn.org
Dokumentasi dapat diakses di sini
Kontak Media
Dietplastik Indonesia
Irfan Septian, Senior Communication Lead, Dietplastik Indonesia
irfan@plasticdiet.id | +628176776780
Aliansi Zero Waste Indonesia (AZWI)
Kia, Communication Manager AZWI
kia@aliansizerowaste.id | +628138919820
GAIA Asia Pacific
Dan Abril, Communications Officer for Programs, GAIA Asia Pacific
dan@no-burn.org | +63917.4194426












