SIARAN PERS
Untuk disiarkan segera
Jakarta, 25 September 2026 — Wakil Menteri Lingkungan Hidup/Wakil Kepala BPLH Diaz Faisal Malik Hendropriyono menyatakan bahwa pemilahan sampah dari sumber menjadi kunci dalam membangun sistem pengelolaan sampah yang efektif. Hal tersebut disampaikan Diaz saat menghadiri Kongres Regional Kedua tentang Organik dan Perubahan Iklim yang diselenggarakan di Jakarta pada 23–24 September 2026.
Pentingnya pemilahan dari sumber tidak terlepas dari besarnya proporsi sampah organik dalam timbulan sampah Indonesia. Diaz menyebut sampah organik mencapai 53,7 persen dari total timbulan sampah, dengan sekitar 40 persen diantaranya merupakan sampah pangan. Karena itu, menurutnya, pengelolaan organik perlu menjadi bagian utama dalam upaya menangani persoalan sampah sekaligus membutuhkan kerja sama lintas sektor dan tingkat pemerintahan.
“Tantangan sampah organik tidak dapat diselesaikan oleh satu kementerian, satu kota, atau satu teknologi. Ini membutuhkan kolaborasi lintas sektor, lintas tingkat pemerintahan, dan lintas negara,” ujar Diaz, Kamis (24/9).
Diaz mengatakan berbagai daerah telah menunjukkan bahwa sampah organik dapat dikelola. Ia mencontohkan Desa Gulingan di Badung yang menurutnya mampu mengelola hampir seluruh sampah dari sekitar 10.000 penduduk melalui pemilahan dan pengolahan di tingkat desa. Di Desa Gedangan, Boyolali, pengelolaan juga dilakukan terhadap kotoran ternak untuk dimanfaatkan kembali.
Berbagai praktik tersebut, menurut Diaz, menunjukkan bahwa tantangannya bukan semata menemukan teknologi, tetapi memperluas praktik yang sudah berjalan dan menyesuaikannya dengan kondisi masing-masing daerah.
“Yang diperlukan adalah bagaimana kita bisa scale up. Kita membutuhkan upaya yang lebih terkoordinasi,” kata Diaz.
Untuk memperluas praktik tersebut, KLH/BPLH mendorong pemerintah daerah menyusun roadmap pengelolaan sampah menuju target 100 persen sampah terkelola pada 2029. Diaz menekankan bahwa setiap daerah memiliki persoalan dan kapasitas yang berbeda sehingga tidak ada satu model yang dapat diterapkan secara seragam. Menurutnya roadmap akan menunjukkan perbedaan cara masing-masing daerah mengelola sampah dan menyelesaikan persoalannya.

Roadmap tersebut diharapkan menjadi acuan pemerintah daerah untuk menentukan langkah, kebutuhan, dan dukungan yang diperlukan dalam membangun sistem pengelolaan sampah. KLH/BPLH juga meminta pemerintah daerah menyampaikan roadmap tersebut sebagai bagian dari upaya mencapai target nasional pada 2029.
Selain perencanaan, Diaz menyoroti kesenjangan pendanaan persampahan di tingkat daerah. KLH/BPLH memberikan panduan agar pemerintah daerah mengalokasikan sekitar 3% anggaran untuk pengelolaan sampah, dengan tetap mempertimbangkan karakteristik dan kebutuhan masing-masing wilayah. Penguatan anggaran diperlukan agar pemerintah daerah memiliki kapasitas untuk menjalankan sistem pengelolaan secara berkelanjutan, bukan hanya mengandalkan pengangkutan dan pembuangan.
Kolaborasi dengan organisasi masyarakat sipil juga didorong untuk memperluas praktik tersebut. Diaz menyebut GAIA, Aliansi Zero Waste Indonesia (AZWI), dan Dietplastik Indonesia sebagai mitra yang dapat membantu mendorong lebih banyak daerah menyusun roadmap, memperkuat dukungan anggaran, serta memperluas kampanye pemilahan sampah dari sumber.
“Kita perlu mendorong lebih banyak daerah untuk menyusun roadmap dan meningkatkan anggaran pengelolaan sampah. Kalau bisa, kita juga berkolaborasi untuk memperluas kampanye pemilahan sampah dari sumber,” kata Diaz.
Dalam kongres, berbagai pilihan pengolahan sampah organik turut dibagikan, mulai dari pengomposan rumah tangga dan komunal, bata terawang atau open windrow, pengomposan skala industri, pengolahan menggunakan larva BSF, eco-enzyme, hingga biodigester. Pilihan tersebut dapat disesuaikan dengan jenis dan jumlah sampah organik, ketersediaan lahan, kapasitas pengelola, serta kondisi masyarakat.
Penguatan pemilahan dan pengolahan organik dari sumber juga berkaitan dengan pencapaian target penurunan emisi sektor limbah dalam NDC Indonesia. Dengan memperkuat sistem di tingkat daerah dan memastikan praktik pengelolaan dapat berjalan berkelanjutan, pengelolaan sampah organik tidak hanya mengurangi beban TPA, tetapi juga menjadi bagian dari upaya mencapai target iklim Indonesia.

Tentang Organik Congress 2.0
Kongres Regional Kedua tentang Organik dan Perubahan Iklim dapat terselenggara berkat dukungan dari para mitra: The Global Methane Hub, Sequoia Climate Foundation, Urban Movement Innovation Fund, dan Plastic Solutions Fund.
Tentang Dietplastik Indonesia
Dietplastik Indonesia adalah organisasi nirlaba yang mendorong perubahan sistemik untuk mencegah timbulan sampah dan mengurangi emisi sejak dari sumbernya. Berawal dari advokasi nasional untuk mengurangi plastik sekali pakai, kini Dietplastik Indonesia bekerja untuk mendorong perubahan kebijakan, praktik ekonomi, dan pola konsumsi menuju sistem pengelolaan sumber daya yang berlandaskan prinsip guna ulang dan regeneratif. Program unggulan Dietplastik Indonesia—Plastic Free Market, Reuse in Jakarta, MERIT Project, dan FIREFLIES—menghadirkan model solusi yang inklusif dan dapat direplikasi untuk mendorong praktik guna ulang dan regeneratif, sekaligus berkontribusi pada peningkatan kualitas lingkungan, kesehatan masyarakat, dan ketahanan ekosistem.
Tentang Aliansi Zero Waste Indonesia (AZWI)
Aliansi Zero Waste Indonesia (AZWI) adalah koalisi organisasi yang mengadvokasi penerapan
konsep zero waste melalui berbagai program dan inisiatif. AZWI berkomitmen mendorong kebijakan dan praktik pengelolaan sampah yang berkelanjutan berdasarkan hierarki pengelolaan sampah dan pendekatan siklus hidup material. www.aliansizerowaste.id
Tentang GAIA
GAIA adalah jaringan kelompok akar rumput serta aliansi nasional dan regional yang mewakili lebih dari 1.000 organisasi di seluruh dunia. Melalui kerja-kerjanya, GAIA mendorong perubahan global menuju keadilan lingkungan dengan memperkuat gerakan sosial akar rumput yang memajukan solusi atas persoalan sampah dan pencemaran.
GAIA membayangkan dunia yang adil dan zero waste yang dibangun dengan menghormati batas-batas ekologis dan hak-hak masyarakat, di mana masyarakat terbebas dari dampak pencemaran beracun dan sumber daya dilestarikan secara berkelanjutan, bukan dibakar atau ditimbun.www.no-burn.org
Dokumentasi dapat diakses di sini
Kontak Media
Dietplastik Indonesia
Irfan Septian, Senior Communication Lead, Dietplastik Indonesia
irfan@plasticdiet.id | +628176776780
Aliansi Zero Waste Indonesia (AZWI)
Kia, Communication Manager AZWI
kia@aliansizerowaste.id | +628138919820













