Siaran Pers
Untuk dirilis segera
Jakarta, 6 April 2026 — Aliansi Zero Waste Indonesia (AZWI) menilai krisis pasokan plastik yang terjadi saat ini bukan hanya berdampak pada pedagang kecil, tetapi merupakan krisis sistemik yang memukul seluruh rantai ekonomi, baik dari produsen hingga konsumen. Lonjakan harga terjadi karena terganggunya pasokan petrokimia global akibat konflik di Asia Barat, yang memperlihatkan betapa rentannya sistem plastik berbasis bahan bakar fosil.
Gangguan di jalur strategis seperti Selat Hormuz telah memperketat pasokan bahan baku petrokimia global dan mendorong harga plastik ke level tertinggi. Selat Hormuz adalah jalur vital energi global yang dilalui sekitar 20–30% pasokan minyak dan gas dunia dengan US$20–25 miliar produk petrokimia tiap tahun. Namun ketika konflik terjadi, ekspor minyak dan nafta tersendat. Hingga 1,2 juta barel/hari ekspor nafta bisa terganggu.
Saat ini, harga nafta melonjak dari USD 600 – USD 800 menjadi US$900/ton. Margin nafta di Asia juga naik dari US$108 menjadi lebih dari US$400/ton. Indonesia yang masih bergantung pada impor bahan baku seperti nafta pun ikut terdampak. Sekitar 50% bahan baku plastik diimpor dari Timur Tengah, sehingga kenaikan harga menjalar ke berbagai sektor seperti produsen kemasan, manufaktur, hingga pelaku usaha kecil di sektor makanan. Ini membuktikan plastik terutama sekali pakai sangat bergantung pada sistem fosil global yang merugikan industri, UMKM, konsumen, hingga lingkungan sebab sebagian besar plastik yang diproduksi hanya akan berakhir menjadi sampah yang tak terkelola.
“Akar persoalannya ada pada struktur industri itu sendiri. Sekitar 40% produksi petrokimia digunakan untuk kemasan berkualitas rendah yang hanya dipakai sekali lalu menjadi polusi di dalam negeri. Ini bukan fondasi ekonomi yang kuat. Sebaliknya, sistem yang selama ini mendorong konsumsi plastik sekali pakai, terutama melalui produk sachet, justru menggantikan sistem curah (refill) atau guna ulang (reuse) yang sebelumnya lebih efisien. Artinya, produksi kemasan yang dipakai pada sistem curah (refill) atau guna ulang (reuse) mendorong sistem untuk senantiasa memperpanjang masa pakai kemasan dan mengurangi ketergantungan terhadap bahan baku minyak,” ujar Direktur Eksekutif Dietplastik Indonesia, Tiza Mafira.
AZWI menegaskan bahwa solusi atas krisis ini bukanlah menunggu harga plastik kembali stabil, melainkan mengurangi ketergantungan terhadap plastik sekali pakai berbasis fosil. Transformasi menuju sistem guna ulang dan isi ulang menjadi langkah strategis yang tidak hanya lebih tangguh terhadap krisis, tetapi juga mampu memperkuat ekonomi lokal dan menekan timbulan sampah.

“Yang perlu dilakukan adalah mengubah sistem produksi dan konsumsi supaya lebih sejalan dengan ekonomi sirkuler. Indonesia perlu tegas mewajibkan produsen menerapkan ekonomi sirkuler yang nyata, dimulai dari memastikan produk dan kemasan dapat digunakan berulang kali (reuse), membangun sistem distribusi curah dan isi ulang yang aman, sampai dengan mengembangkan sistem logistik kemasan guna ulang yang memadai. Pemerintah juga perlu menetapkan target wajib sistem guna ulang bagi produsen agar transformasi ini berjalan secara sistemik, bukan sukarela,” jelas Co Coordinator AZWI, Rahyang Nusantara.
Percepatan Implementasi P75 tahun 2019
Selain itu, percepatan implementasi kebijakan nasional juga menjadi kunci. AZWI menilai target pengurangan sampah oleh produsen melalui Permen LHK No. 75 Tahun 2019 (P75) perlu dipercepat, tidak menunggu hingga 2030. Bersamaan dengan itu, pemerintah perlu segera menghentikan produksi dan penggunaan plastik problematik, yaitu plastik bernilai rendah, sulit didaur ulang, dan berpotensi membahayakan kesehatan.
Untuk jenis plastik yang belum dapat dieliminasi, perbaikan tata kelola daur ulang tetap diperlukan. Namun perlu ditegaskan bahwa daur ulang tidak dapat menjadi solusi tunggal, karena sangat bergantung pada pemilahan dan pengangkutan terpilah dari sumber. Tanpa sistem yang baik, plastik berisiko terkontaminasi dan justru membahayakan kesehatan. Oleh karena itu, penguatan daur ulang harus berjalan seiring dengan penghentian material problematik.
“Imbas serangan pemerintah AS dan Israel terhadap Iran mengganggu rantai pasok bahan baku plastik membuat harga kemasan plastik sekali pakai naik, Indonesia harus melepas diri dari ketergantungan energi fosil dan menjadi momentum bagi Pemerintah dan produsen untuk kembali kepada hirarki pengelolaan sampah dengan memprioritaskan pengurangan produksi plastik dari hulu, membangun sistem guna ulang dan memperbaiki tata kelola daur ulang. Memperkuat EPR secara menyeluruh dimulai dengan mengeliminasi kemasan-kemasan yang sulit didaur ulang seperti saset,” ujar Juru Kampanye Zero Waste Greenpeace Indonesia, Ibar Akbar.
Di sisi hilir, dampak dari sistem plastik sekali pakai juga terlihat pada meningkatnya tekanan terhadap Tempat Pemrosesan Akhir (TPA). Berdasarkan data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) plastik menjadi salah satu penyumbang terbesar volume sampah sekitar 20.52%, dan mempercepat penuhnya TPA di berbagai daerah.

Kajian Zona Perluasan Sarimukti (2025) menunjukkan bahwa peningkatan umur TPA yang paling signifikan dapat dicapai melalui kombinasi pengurangan plastik, pemilahan di sumber, dan pengolahan sampah organik. Dalam simulasi percepatan P75 dari 2030 ke 2027, dengan penerapan sejak 2026, umur TPA diproyeksikan dapat meningkat hingga dua kali lipat.
Pemerintah tidak boleh merespons situasi ini dengan sekadar menunggu harga global stabil. Momentum ini harus dipakai untuk mengoreksi ketergantungan Indonesia pada plastik sekali pakai berbasis fosil. Untuk itu, AZWI mendesak agar Pemerintah segera:
- Mempercepat implementasi Permen LHK 75/2019 tanpa menunggu 2030
- Mulai melarang bertahap plastik sekali pakai yang sudah masuk daftar pengurangan
- Memperluas sistem guna ulang di sektor makanan dan ritel
- Menguatkan pemilahan, pengangkutan terpilah dan pengolahan sampah organik maupun non organik di sumber untuk memperpanjang umur TPA
- Memperbaiki tata kelola daur ulang serta melarang produksi hingga penggunaan material plastik problematik
—Selesai—
Narahubung:
Kia, Communications Manager AZWI
Email: kia@aliansizerowaste.id
Telepon: +62 813-8919-820
Tentang Aliansi Zero Waste Indonesia (AZWI)
Aliansi Zero Waste Indonesia (AZWI) adalah jaringan organisasi yang mengkampanyekan implementasi konsep zero waste yang benar melalui berbagai program dan inisiatif. AZWI berkomitmen untuk mendorong kebijakan dan praktik pengelolaan sampah yang berkelanjutan berdasarkan prinsip hirarki pengelolaan sampah dan siklus hidup material. Website: aliansizerowaste.id













