Polusi plastik selama ini sering dibayangkan sebagai masalah laut. Namun, temuan terbaru menunjukkan bahwa plastik kini telah berpindah ke medium yang lebih dekat dengan tubuh manusia: udara.
Riset yang dilakukan oleh anggota Aliansi Zero Waste Indonesia yakni Ecological Observation and Wetland Conservations (Ecoton) bersama Society of Indonesian Environmental Journalist (SIEJ) pada Mei–Juli 2025 di 18 kota di Indonesia mengungkap fakta penting: mikroplastik telah terdeteksi di udara yang kita hirup setiap hari, bahkan di zona pernapasan manusia.
Ini berarti, tanpa disadari, manusia tidak hanya “mengonsumsi” mikroplastik dari makanan dan air, tetapi juga dari udara.
Mikroplastik Ada di Hampir Semua Kota
Dalam penelitian tersebut, jumlah partikel mikroplastik yang ditemukan bervariasi antar kota.

Artinya, mikroplastik di udara bukan hanya berasal dari satu jenis aktivitas, tetapi dari berbagai sumber yang saling terhubung dengan kehidupan sehari-hari.
Pembakaran Sampah: Kontributor Utama (55%)
Temuan paling mencolok dari penelitian ini adalah bahwa sekitar 55–55,6% mikroplastik di udara berasal dari pembakaran sampah plastik. Dalam analisis berbasis kota, praktik ini terdeteksi di lebih dari setengah wilayah studi (55,6% kota).

Kenapa pembakaran jadi sumber terbesar?
Ketika plastik dibakar, materialnya tidak hilang. Sebaliknya, plastik terurai menjadi partikel mikro berukuran sangat kecil melalui asap, jelaga, dan abu serta mengandung polimer seperti:
- Polyethylene (PE)
- Polypropylene (PP)
- Polybutene (PB)
- PTFE
- Polyester
Partikel ini kemudian melayang di udara dan mudah terhirup oleh manusia. Lebih jauh, praktik pembakaran sampah terbuka masih umum terjadi di permukiman padat, area tanpa layanan pengelolaan sampah, kawasan industri dan wisata.
Dengan kata lain, sumber utama mikroplastik ini bukan fenomena alam, melainkan hasil dari sistem pengelolaan sampah yang belum memadai.
Sumber Lain: Sistemik dan Terhubung dengan Gaya Hidup
Selain pembakaran sampah, penelitian Ecoton juga mengidentifikasi berbagai sumber lain yang berkontribusi terhadap mikroplastik di udara:

Temuan ini menunjukkan bahwa mikroplastik di udara adalah hasil akumulasi dari berbagai sistem—bukan satu sektor saja.
Ancaman Kesehatan: Polusi yang Tidak Terlihat
Mikroplastik didefinisikan sebagai partikel plastik berukuran kurang dari 5 mm, bahkan banyak yang jauh lebih kecil dari itu. Karena ukurannya yang sangat kecil: partikel dapat masuk ke saluran pernapasan, berpotensi mencapai paru-paru dan membawa bahan kimia berbahaya yang menempel pada permukaannya.
Paparan jangka panjang terhadap mikroplastik dikaitkan dengan gangguan pernapasan, inflamasi dan berpotensi dampak sistemik lainnya. Bahkan, yang membuatnya lebih berbahaya adalah sifatnya yang tidak terlihat dan terus-menerus terpapar.
Akar Masalah: Tata Kelola Sampah yang Gagal
Jika ditarik lebih dalam, temuan ini bukan hanya soal mikroplastik, tetapi tentang sistem. Dominasi pembakaran sampah sebagai sumber utama menunjukkan bahwa akses layanan pengelolaan sampah masih terbatas, praktik “bakar sampah” masih dianggap solusi, dan sistem pengurangan di sumber belum berjalan optimal. Padahal, pembakaran bukan solusi, melainkan memindahkan masalah dari tanah ke udara.
Untuk mengatasi mikroplastik di udara, pendekatannya tidak bisa parsial. Beberapa langkah kunci yang perlu didorong:
- Hentikan pembakaran sampah terbuka
- Kurangi plastik sekali pakai
- Dorong sistem guna ulang (reuse)
- Perbaiki layanan pengelolaan sampah, terutama di wilayah padat dan peri-urban.
Mikroplastik di udara adalah bentuk polusi yang paling dekat dengan manusia, karena kita menghirupnya setiap saat. Temuan bahwa lebih dari setengahnya berasal dari pembakaran sampah seharusnya menjadi alarm keras: krisis plastik bukan hanya soal lingkungan, tetapi juga soal kesehatan dan keselamatan manusia. Jika tidak ada perubahan sistemik, maka plastik tidak hanya akan mengotori bumi, tetapi juga tubuh kita. (Kia)













