SIARAN PERS
Yeosu, Republik Korea Selatan, 23 April 2026 — Saat para pemimpin global berkumpul di Yeosu, Republik Korea, untuk Climate Week, Co-coordinator Aliansi Zero Waste Indonesia (AZWI) Rahyang Nusantara menyampaikan peringatan bahwa krisis TPA open dumping di Indonesia dan seluruh Asia Tenggara mendorong perubahan iklim dan memperburuk kesehatan publik, ditandai dengan meningkatnya kebakaran TPA, emisi metana, dan polusi udara beracun.
“Diskusi dalam UNFCCC Climate Week di Yeosu menegaskan satu hal penting: ini adalah momen krusial di antara sesi menuju COP31 di Türkiye, di mana kita harus beralih dari komitmen ke implementasi, dan zero waste harus menjadi pusat dari perubahan tersebut,” ujar Rahyang, Co-Coordinator AZWI, dalam partisipasinya pada UNFCCC Climate Week 2026 di Yeosu, Korea Selatan.
Lebih lanjut Rahyang menilai praktik open dumping dan penimbunan sampah yang masih dominan di kawasan ini telah berubah menjadi “bom metana”, yang diperparah oleh suhu panas ekstrem dan makin seringnya bencana terkait sampah. Sejumlah insiden terbaru memperlihatkan luasnya skala krisis tersebut.

Di Indonesia, rangkaian insiden di TPA Bantargebang—fasilitas pengelolaan sampah terbesar di negara ini yang menjadi tujuan pembuangan sampah dari Jakarta—kian menegaskan urgensi persoalan ini. Kebakaran besar pada 29 Oktober 2023 memperlihatkan tingginya risiko yang melekat pada TPA. Pada 8 Maret 2026, longsor sampah di lokasi yang sama menewaskan tujuh orang, termasuk sopir truk dan pemilik warung di sekitar area. Peristiwa ini menjadi pengingat pahit bahwa ketergantungan pada TPA tidak lagi aman maupun berkelanjutan..
Peristiwa ini merupakan bagian dari rangkaian kebakaran besar di TPA yang terus berulang di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir. Sejak 2023, sejumlah TPA berskala besar—termasuk Sarimukti (Jawa Barat), Rawa Kucing (Tangerang), Piyungan (Yogyakarta), dan Suwung (Bali)—mengalami kebakaran setelah beroperasi jauh melampaui kapasitas, yang kerap dipicu oleh penumpukan gas metana dan suhu panas ekstrem. Rangkaian kejadian ini tidak hanya memicu respons darurat dan penutupan TPA, tetapi juga membuat masyarakat sekitar terpapar asap beracun dan polusi udara dalam waktu yang berkepanjangan. Dalam beberapa kasus, peristiwa ini bahkan dilaporkan menimbulkan korban jiwa—menunjukkan meningkatnya risiko terhadap kesehatan publik dan lingkungan akibat ketergantungan berlebihan pada TPA.

Di Filipina, kegagalan sistemik dalam pengelolaan TPA juga memicu tragedi berulang. Pada Januari 2026, longsor besar di TPA Binaliw, Kota Cebu, merenggut 36 korban jiwa setelah timbunan sampah yang melemah akibat hujan lebat runtuh ke permukiman di sekitarnya. Insiden ini kemudian disusul kebakaran di TPA Navotas pada April 2026 yang berlangsung selama enam hari, menyelimuti kota-kota sekitar dengan asap beracun.
Thailand juga mengalami insiden serupa. Kebakaran besar di TPA Saphan Hin di Phuket minggu lalu membakar volume sampah yang besar, setelah kebakaran berkepanjangan lainnya di TPA milik Pemerintah Kota Khuan Lang di Songkhla pada akhir Maret, yang mengirimkan asap hingga ke Hat Yai.
Rahyang memperingatkan bahwa selain bahaya langsung berupa kebakaran dan longsor sampah, TPA juga merupakan sumber utama metana, gas rumah kaca yang jauh lebih kuat dibandingkan karbon dioksida. Ketika dikombinasikan dengan kondisi panas ekstrem dan kekeringan yang semakin intens akibat perubahan iklim, lokasi-lokasi ini menjadi semakin tidak stabil dan berbahaya.

Di tengah penyelenggaraan konferensi iklim di berbagai kota di Asia, dari Mumbai di India hingga Bangkok di Thailand, masyarakat terdampak masih menanggung beban terbesar. Mereka terus terpapar dioksin, asap beracun, dan bau plastik terbakar, tanpa perlindungan, pengakuan, maupun keadilan yang memadai.
“Meningkatnya jumlah korban jiwa akibat insiden di TPA di Indonesia dan negara-negara Asia lainnya menjadi bukti nyata bahwa sistem pengelolaan sampah kita telah gagal. Dalam berbagai forum, metana dari sampah terus disorot sebagai risiko iklim yang besar dan terus meningkat, sekaligus salah satu cara tercepat untuk memperlambat pemanasan global. Bukti ilmiah sudah jelas, solusi pun sudah tersedia, namun langkah yang diambil masih terlalu lambat. Bagi negara seperti Indonesia, persoalan ini bukan lagi sekadar wacana. Kebakaran dan ledakan TPA yang terus berulang, serta kebijakan penutupan yang baru-baru ini dikeluarkan oleh Menteri Lingkungan Hidup, menjadi peringatan keras. Ini bukan kejadian yang berdiri sendiri, melainkan dampak langsung dari sistem yang masih bergantung pada praktik pembuangan,” jelas Rahyang.
Senada dengan Rahyang, Yobel Novian-Putra, GAIA’s Global Climate Policy Officer, menegaskan, “Krisis TPA di seluruh kawasan ini adalah peringatan untuk mendorong sumber daya ke solusi nyata di lapangan — pemilahan sampah dari sumber dan penerapan sistem pengolahan berdampak tinggi yang memberikan manfaat kesehatan, menciptakan pekerjaan layak, dan mendukung agenda iklim. Kota-kota di Asia telah menunjukkan jalannya. San Fernando di Filipina, yang baru-baru ini diakui oleh PBB sebagai salah satu dari dua puluh pemimpin kota menuju zero waste, telah menunjukkan bahwa pemilahan sistematis dari sumber dapat secara drastis mengurangi sampah yang masuk ke lokasi pembuangan. Bandung menempuh jalur serupa — mengerahkan lebih dari 1.596 pekerja sampah untuk mempercepat pemilahan dari sumber dan pengelolaan sampah organik secara desentralisasi sebagai respons langsung terhadap krisis kapasitas TPA. Kota-kota ini membuktikan bahwa zero waste bukan sekadar cita-cita, melainkan transisi nyata yang dapat diwujudkan untuk melindungi kehidupan dan iklim,”.
AZWI mendesak pemerintah Indonesia untuk mengambil tindakan segera dan tegas guna mengakhiri praktik open dumping yang masih mendominasi sistem pengelolaan sampah nasional. Meskipun pemerintah telah menetapkan target untuk menghapus praktik ini dalam waktu dekat, open dumping masih mencakup sebagian besar pengelolaan sampah dan terus menimbulkan risiko serius, mulai dari kebakaran dan longsor sampah hingga emisi metana yang memperburuk krisis iklim. Ketergantungan yang terus berlanjut pada TPA sebagai solusi utama terbukti tidak aman maupun tidak berkelanjutan, mencerminkan kegagalan sistemik dalam pengelolaan sampah dari hulu hingga hilir.

AZWI juga memperingatkan terhadap perluasan insinerasi waste-to-energy (WTE) dan co-firing Refuse-derived Fuel (RDF) di fasilitas industri, dengan menyebutnya sebagai solusi semu yang mengunci jalur beremisi tinggi. Selain emisi CO₂, kebakaran TPA dan pembakaran sampah menghasilkan karbon hitam—bersama dengan metana, keduanya merupakan super-polutan yang mendorong pemanasan global jangka pendek jauh lebih cepat dibandingkan CO₂.
Lebih lanjut AZWI kembali menegaskan kebutuhan mendesak untuk mengakhiri praktik open dumping, yang masih mendominasi sistem pengelolaan sampah di Indonesia meskipun terdapat target penghapusan resmi. Ketergantungan berkelanjutan pada TPA mencerminkan kegagalan sistemik di sepanjang rantai sampah, dari produksi hingga pembuangan.

Alih-alih berinvestasi pada infrastruktur berbasis insinerasi, AZWI mendorong transisi cepat menuju sistem zero waste yang berfokus pada pengurangan sampah, pemilahan dari sumber, serta solusi desentralisasi yang dipimpin oleh komunitas.
Lebih lanjut, GAIA Asia Pasifik menambahkan bahwa para pemangku kepentingan pendanaan iklim harus mengalihkan pembiayaan dari teknologi beremisi tinggi dan mengalokasikannya kembali ke inisiatif zero waste berbasis komunitas, dengan memprioritaskan pengelolaan sampah desentralisasi serta pengakuan formal terhadap pekerja sampah dan pemulung yang menjadi tulang punggung ekonomi sirkular di Asia.
Aksi iklim yang sejati melampaui siklus pembuangan dan pembakaran; kita harus memprioritaskan sistem zero waste yang melindungi udara kita, iklim kita, dan keselamatan komunitas kita.
Kontak Media:
Kia, Communication Manager, Aliansi Zero Waste Indonesia | aliansizerowaste.id | +62 813-8919-820
Dan Abril, Communications Associate, GAIA Asia Pacific | dan@no-burn.org | +639174194426
Tentang Aliansi Zero Waste Indonesia (AZWI)
Aliansi Zero Waste Indonesia (AZWI) adalah jaringan organisasi yang mengkampanyekan implementasi konsep zero waste yang benar melalui berbagai program dan inisiatif. AZWI berkomitmen untuk mendorong kebijakan dan praktik pengelolaan sampah yang berkelanjutan berdasarkan prinsip hirarki pengelolaan sampah dan siklus hidup material. Website: aliansizerowaste.id
Tentang GAIA:
GAIA adalah jaringan kelompok akar rumput serta aliansi nasional dan regional yang mewakili lebih dari 1000 organisasi dari 92 negara. Melalui kerja kami, kami bertujuan untuk mendorong pergeseran global menuju keadilan lingkungan dengan memperkuat gerakan sosial akar rumput yang mengadvokasi solusi terhadap sampah dan polusi. Kami membayangkan dunia yang adil dan zero waste yang dibangun atas penghormatan terhadap batas ekologis dan hak-hak komunitas, di mana masyarakat terbebas dari beban polusi beracun, dan sumber daya dikelola secara berkelanjutan, bukan dibakar atau dibuang. www.no-burn.org













