release
Kota Kediri, 8 April 2026 — Sebanyak 10 relawan dari kader Bank Sampah Pringgodani, Kelurahan Mrican, Kota Kediri, melaksanakan kegiatan brand audit pada Rabu (1/4) sebagai bagian dari tindak lanjut aktivitas AKSA yang telah dilakukan sebelumnya. Kegiatan ini berlangsung dengan tujuan untuk mengidentifikasi komposisi dan sumber sampah, khususnya kemasan sekali pakai, sebagai dasar penyusunan strategi pengurangan sampah yang lebih efektif.

Berdasarkan hasil brand audit terhadap sampah yang terkumpul, ditemukan bahwa sampah kemasan sachet masih mendominasi. Produk dari Wings menjadi penyumbang terbesar dengan total 149 kemasan, disusul Mayora sebanyak 113 kemasan. Tanobel tercatat sebanyak 78 kemasan, Unilever 76 kemasan, dan Danone 75 kemasan. Selain itu, terdapat kontribusi dari CV. Primarasa (41 kemasan), PT Bisco (35 kemasan), PT Jaya Prima Abadi (29 kemasan), PT Forisa Nusa Persada (28 kemasan), serta CV. Pangan Arta Sejahtera Madiun sebanyak 21 kemasan.
Temuan ini menunjukkan bahwa produk kebutuhan sehari-hari dalam kemasan sachet masih menjadi pilihan utama masyarakat. Namun, di sisi lain, jenis kemasan ini menjadi penyumbang signifikan terhadap timbulan sampah yang sulit didaur ulang dan berpotensi mencemari lingkungan.
Proses brand audit dilakukan secara partisipatif, mulai dari pemilahan sampah, pencatatan merek, hingga penghitungan jumlah kemasan. Kegiatan ini tidak hanya menghasilkan data yang akurat, tetapi juga meningkatkan kesadaran relawan dan masyarakat akan pentingnya pengurangan sampah dari sumbernya.

Siti Fatimah kader lingkungan kelurahan Mrican menjelaskan kegiatan Brand Audit melalui proses pencatatan merk sampah dan perhitungan.
“Saya baru dari brand audit ini bisa menemukan banyak merk, mala terlalu banyak merk hingga membuat bingung sedikit,” jelasnya.
Ditemui ditempat yang sama Eka salah satu pengurus Bank Sampah Pringgodani mengatakan kita masih punya solusi untuk pengurangan plastik sachet.
“Mungkin kita bisa mulai mengurangi sampah sachet ya, kebanyakan kemasan sachet dari bumbu masakan, jadi kita mulai bisa nih membuat bumbu-bumbu sendiri kan ngulek sendiri gitu sehingga sampah plastik sachet berkurang,” tuturnya.

Berdasarkan hasil brand audit, terdapat beberapa rekomendasi yang diusulkan sebagai langkah strategis untuk mengurangi timbulan sampah sachet menuju kampong Zero Waste Cities :
- Mendorong perubahan perilaku masyarakat untuk beralih dari produk sachet ke kemasan isi ulang atau ukuran besar yang lebih ramah lingkungan dan ekonomis.
- Membangun system layanan isi ulang (refill) di tingkat local/desa, sehingga masyarakat memiliki alternatif yang mudah dijangkau.
- Mendorong produsen untuk bertanggung jawab melalui inovasi kemasan yang dapat digunakan kembali atau mudah didaur ulang, serta mengurangi produksi kemasan sekali pakai.
Dari sisi produsen, diperlukan komitmen yang lebih kuat untuk mengurangi produksi kemasan sekali pakai serta mengembangkan inovasi kemasan yang dapat digunakan kembali atau lebih mudah didaur ulang. Sementara itu, pemerintah daerah diharapkan dapat memperkuat kebijakan pembatasan penggunaan sachet serta mendukung inisiatif-inisiatif berbasis masyarakat seperti gerakan pilah sampah untuk mendukung bank sampah, kegiatan Composting dan layanan isi ulang refill.
Melalui kegiatan ini, hasil brand audit diharapkan tidak hanya menjadi data semata, tetapi juga menjadi dasar advokasi untuk mendorong kolaborasi antara masyarakat, pemerintah, dan pelaku usaha dalam menciptakan sistem pengelolaan sampah yang lebih berkelanjutan di Kota Kediri.













