Siaran Pers Aliansi Zero Waste Indonesia (AZWI)
Untuk dirilis segera
Jenewa, 8 Agustus 2025 – Aliansi Zero Waste Indonesia (AZWI) mengkritisi dominasi pelobi dari industri bahan bakar fosil dan petrokimia dalam putaran kedua sesi kelima perundingan perjanjian global tentang polusi plastik (INC‑5.2) di Jenewa. Berdasarkan analisis terbaru Center for International Environmental Law (CIEL), tercatat sedikitnya 234 pelobi industri hadir di ruang negosiasi. Angka ini menjadikan mereka kelompok non-pemerintah terbesar di dalam forum, melampaui banyak delegasi negara, bahkan beberapa blok negosiasi regional. Data ini diperoleh dari daftar partisipan yang dirilis UNEP dan diolah secara teliti baris demi baris oleh tim CIEL.
Kehadiran masif pelobi industri ini menimbulkan kekhawatiran mendalam. Industri bahan bakar fosil dan petrokimia adalah aktor utama dalam rantai produksi plastik, dari ekstraksi minyak dan gas hingga pembuatan resin plastik. Dengan posisi mereka yang strategis, upaya melobi dapat diarahkan untuk mempertahankan status quo: mendorong solusi teknis yang dangkal, melemahkan target pengurangan produksi, atau mengaburkan kewajiban hukum yang seharusnya mengikat.
Bagi masyarakat sipil internasional, temuan ini adalah alarm keras. AZWI menilai proses perundingan yang seharusnya memprioritaskan sains, kesehatan publik, dan keberlanjutan lingkungan bisa tergelincir jika kepentingan industri menguasai meja diskusi. Mengingat polusi plastik adalah krisis multidimensi yang mengancam laut, tanah, udara, dan kesehatan manusia, setiap celah kompromi yang menguntungkan produsen plastik dapat berarti hilangnya momentum untuk perubahan sistemik.
“Kami mengecam dominasi pelobi industri dalam proses negosiasi INC-5.2 yang menggeser fokus dari upaya perlindungan kesehatan manusia dan lingkungan. Kekuatan lobi ini bukan hanya melemahkan komitmen global dan merugikan rakyat tetapi juga sebaliknya membuka jalan bagi keuntungan korporasi,” kata Nindhita Proboretno, Toxics Program Manager Nexus3 Foundation. “Seperti di Indonesia, kebijakan plastik kerap tunduk kepada tekanan industri besar. Sehingga upaya pembatasan produksi plastik dan penghapusan bahan kimia berbahaya tersendat. Sementara masyarakat terus menanggung beban pencemaran dan hak atas lingkungan hidup yang sehat diabaikan,” tambahnya.

Sebagai negara kepulauan dengan garis pantai terpanjang kedua di dunia, Indonesia berada di garis depan dampak polusi plastik, baik pada ekosistem laut maupun kesehatan manusia. Berdasarkan data registrasi UNEP, delegasi Indonesia tercatat berjumlah 42 orang. Ini menjadi modal penting untuk memperkuat posisi negosiasi dan mendorong hasil perundingan yang ambisius. Jika perjanjian global nantinya disusun dengan kompromi yang menguntungkan industri, tidak memuat target pengurangan produksi plastik yang ambisius, mekanisme pendanaan yang adil, dan aturan transparansi yang ketat, negara seperti Indonesia akan menghadapi tantangan berlipat ganda: beban polusi terus bertambah, tetapi dukungan internasional untuk mengatasinya menjadi minim.
AZWI mendesak pemerintah Indonesia untuk mengambil posisi tegas dalam perundingan INC-5.2 dengan mendorong transparansi proses, membatasi pengaruh industri yang memiliki konflik kepentingan, dan memastikan perjanjian global yang dihasilkan memuat target pengurangan produksi plastik yang ambisius, mekanisme pendanaan yang adil, serta perlindungan kesehatan publik.
“234 pelobi dari perusahaan bahan bakar fosil yang hadir dalam perundingan perjanjian plastik global mencemari harapan kita untuk hidup bebas dari polusi plastik, sudah saatnya memberikan ruang yang luas dan adil bagi para masyarakat dan kelompok ilmuwan dalam proses perundingan perjanjian plastik global,” pungkas Zero Waste Campaigner, Greenpeace Indonesia, Ibar Akbar.
— SELESAI –
dokumentasi dapat diunduh disini
Narahubung:
Kia, Comms Officer AZWI
Telepon: 0852 1580 9537
Anggota AZWI yang Menjadi Observer di INC-5.2 Jenewa, Swiss | 5–14 Agustus 2025
Yuyun Ismawati Drwiega [Senior Advisor, Nexus3 Foundation]
Berpengalaman luas dalam isu kesehatan lingkungan, bahan kimia berbahaya, dan limbah. Pendekatannya berfokus pada partisipatif, pelibatan pemangku kepentingan, dan perubahan sistemik sebagai kunci untuk menangani krisis lingkungan dan kesehatan.
Nindhita Proboretno [Toxics Program Manager, Nexus3 Foundation]
Berpengalaman dalam isu pengelolaan sampah, polusi plastik, gender dan sampah, sekolah bebas plastik, waste-to-energy, serta senyawa organik persisten (POPs) dalam plastik.
Rahyang Nusantara [Deputy Director, Dietplastik Indonesia]
Telah lebih dari 10 tahun aktif dalam kampanye lingkungan, khususnya advokasi pengurangan sampah plastik. Saat ini fokus pada sistem guna ulang (reuse ecosystem).
Ibar Akbar [Zero Waste Campaigner, Greenpeace Indonesia]
Memimpin kampanye plastik sejak 2020, dengan fokus pada akuntabilitas produsen, pengurangan produksi plastik, serta transparansi dan implementasi solusi pengurangan sampah di sektor manufaktur.
Tentang Aliansi Zero Waste Indonesia (AZWI)
Aliansi Zero Waste Indonesia (AZWI) adalah jaringan organisasi yang mengkampanyekan implementasi konsep zero waste yang benar melalui berbagai program dan inisiatif. AZWI berkomitmen untuk mendorong kebijakan dan praktik pengelolaan sampah yang berkelanjutan berdasarkan prinsip hirarki pengelolaan sampah dan siklus hidup material.
Website: aliansizerowaste.id













