Indonesia kerap memiliki beragam cara pengelolaan sampah organik , mulai dari cara tradisional seperti lombang, hingga metode modern yang lebih dikenal hari ini seperti biopori, takakura, dan berbagai jenis komposter modern lainnya. Namun sayang, di tengah banyaknya metode tersebut, Indonesia justru menghadapi krisis sampah yang semakin serius, tempat pembuangan akhir (TPA) terus penuh, emisi gas rumah kaca meningkat dan beban pengelolaan sampah yang kian menekan pemerintah daerah dan masyarakat. Pertanyaannya, jika metode pengelolaan sampah organik sudah lama ada dan dikenal, kenapa Indonesia masih mengalami krisis sampah? dimana letak akar masalahnya?
Lombang atau yang juga dikenal di daerah Jawa Tengah sebagai jugangan, merupakan praktik pengelolaan sampah rumah tangga yang pernah lazim dilakukan sebelum plastik sekali pakai mendominasi kehidupan sehari-hari. lombang atau jugangan adalah lubang galian di tanah yang digunakan untuk menimbun sisa-sisa organik, seperti sisa makanan, daun, dan sampah dapur, untuk kemudian dibiarkan terurai secara alami oleh mikroorganisme tanah. Pada konteks zamannya, praktik ini relatif aman dan efektif karena jenis sampah yang dihasilkan masyarakat masih didominasi material organik yang mudah terurai dan tidak meninggalkan residu berbahaya.
Jika ditarik ke saat ini, lombang sejatinya memiliki prinsip yang sama dengan berbagai metode pengelolaan sampah organik modern. Biopori misalnya, memanfaatkan tanah dan mikroorganisme untuk mengurai bahan organik sekaligus meningkatkan daya resap air. Takakura yang mengandalkan proses biologis aerobik untuk mengolah sisa-sisa makanan di skala rumah tangga serta berbagai komposter modern yang bekerja dengan prinsip serupa.

Semua metode ini memiliki satu syarat utama yaitu, sampah organik harus dipilah dengan kondisi yang bersih, karena begitu sampah organik tercampur dengan plastik, residu kimia atau material non organik lain, proses penguraian akan melambat kualitas kompos menurun dan resiko pencemaran akan meningkat.
Berkaca dari hal tersebut, bisa disimpulkan bahwa sebenarnya teknologi pengelolaan sampahnya sudah tersedia, namun sistem yang pemilahannya yang belum berjalan.
Data nasional: sampah Organik dominan, Tapi belum terolah sepenuhnya
Menurut data terakhir yang terdapat pada Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) tahun 2025, lebih dari 50 persen sampah di Indonesia terdiri dari sampah organik, terutama sisa makanan sebanyak 40,68 persen, sebagian besar timbulan ini berasal dari rumah tangga.
Angka ini seharusnya bisa jadi potensi dan peluang besar, karena lebih dari separuh masalah sampah sebenarnya bisa diselesaikan di sumber, tanpa harus dibawa ke TPA. Namun realitanya saat ini sebagian besar sampah termasuk sampah organik masih dikumpulkan, diangkut dan ditimbun bersama-sama.
Akibatnya, TPA di berbagai daerah mengalami kelebihan kapasitas (overload). Sampah organik yang tertimbun menghasilkan gas metana, salah satu gas rumah kaca paling kuat. Selain itu, lindi dari timbunan sampah mencemari tanah dan air, memicu konflik sosial dan jelas berpotensi meningkat biaya pengelolaan lingkungan.
Jika sampah organik dipilah secara konsisten di tingkat rumah tangga, dampaknya akan sangat signifikan. Volume sampah sampah yang masuk ke TPA bisa berkurang drastis. Dari sisi iklim, pengelolaan organik melalui komposting atau biodigester menghasilkan emisi yang jauh lebih rendah dibandingkan penimbunan sampah di TPA. Dari sisi ekonomi, pemerintah daerah dapat menghemat biaya pengangkutan dan pengelolaan, sementara masyarakat bisa memanfaatkan kompos untuk kebutuhan lokal.
Lebih jauh lagi, pemilahan organik juga dapat membuka peluang ekonomi sirkular tingkat komunitas, mulai dari produksi kompos hingga pakan maggot, namun semua ini hanya akan terjadi ketika sampah organik dipisahkan sejak dari awal.
Ragam material sampah dan sistem yang belum siap
Di sisi lain, krisis sampah yang terjadi hari ini seringkali dipandang sebagai persoalan individu. Padahal, masalahnya jauh lebih struktural. Berbagai jenis material yang beredar di masyarakat semakin kompleks, mulai dari plastik sekali pakai sampai kemasan multilayer yang sulit bahkan tidak bisa didaur ulang menjadi masalah yang kunjung belum bisa diselesaikan.
Pada saat yang sama, sistem pengelolaan sampah di Indonesia masih berfokus pada pendekatan hilir; kumpul, angkut, buang. Pemilahan di sumber belum menjadi prioritas kebijakan, infrastruktur pendukung terbatas dan insentif bagi masyarakat juga relatif kecil. Dalam kondisi seperti ini, menyalahkan Individu karena ‘malas memilah sampah’ rasanya terasa tidak adil, mesti ada sistem yang ikut mendukung agar proses memilah sampah dianggap sebagai solusi bukan beban tambahan bagi masyarakat.
Lalu Apakah Kita Harus kembali ke Lombang?
Bicara kembali soal lombang, bukan berarti masyarakat kembali ke praktik lama yang mungkin tidak lagi relevan dengan kondisi sampah hari ini, yang perlu dihidupkan kembali bukan lombangnya melainkan ‘prinsip dasarnya’. Pemilahan material, pengelolaan sampah dari sumber dan kesadaran bahwa sampah organik bukan residu melainkan sumber daya yang mengandung berbagai potensi termasuk ekonomi.

Biopori, takakura dan komposter modern lainnya hanya efektif jika didukung oleh kebijakan yang serius dengan mendorong pemilahan sampah dari sumber dan edukasi publik yang konsisten. Tanpa hal tersebut masalah sampah yang terjadi saat ini akan terus berulang.
Lombang pernah ada dan bekerja karena material sampah yang dihasilkan masyarakat masih selaras dengan daya dukung lingkungan. Hari ini, krisis sampah bukan terjadi karena kita kehilangan pengetahuan, melainkan karena material yang kita produksi semakin kompleks dan bermasalah serta sistem pengelolaannya yang masih belum siap.
Solusinya bukan mundur ke masa lalu, tapi tetap maju dengan belajar dari prinsip yang pernah ada dan benar. Mengurangi produksi sampah dari sejak awal, memilah sampah organik dan mengolahnya dengan metode yang relevan, menghentikan kebiasaan mencampur sampah dan tidak mengandalkan teknologi berbasis termal untuk menghabiskan sampah.
Jika kita serius membenahi pemilahan dari sumber, sebagian besar masalah sampah di Indonesia sebenarnya sudah selesai setengah jalan. Bukan karena kita menemukan teknologi baru, tetap karena kita memilih untuk menggunakan prinsip yang benar. (Pidi)













