Thursday, April 16, 2026
  • Login
EnglishIndonesian
Aliansi Zero Waste Indonesia
  • Beranda
  • Artikel
    • Reportase
    • Siaran Pers
    • Feature
  • Publikasi
    • Laporan
    • Buletin
  • Pendekatan Zero Waste
    • Isu Strategis
      • Pengurangan Produksi Plastik
      • Penurunan Pola Konsumsi Plastik
      • Sistem Guna Ulang
      • Solusi Semu
      • Sampah Organik
    • Flagship Program
      • Zero Waste Cities and Island
      • Plastics Treaty
      • Brand Audit
      • Project Boost
      • Sekolah Ekologis
      • Project Merit
  • Tentang Kami
    • Profil Aliansi
    • Anggota
    • Dewan Pengarah
    • Sekretariat Nasional
    • Jejaring
No Result
View All Result
Aliansi Zero Waste Indonesia
  • Beranda
  • Artikel
    • Reportase
    • Siaran Pers
    • Feature
  • Publikasi
    • Laporan
    • Buletin
  • Pendekatan Zero Waste
    • Isu Strategis
      • Pengurangan Produksi Plastik
      • Penurunan Pola Konsumsi Plastik
      • Sistem Guna Ulang
      • Solusi Semu
      • Sampah Organik
    • Flagship Program
      • Zero Waste Cities and Island
      • Plastics Treaty
      • Brand Audit
      • Project Boost
      • Sekolah Ekologis
      • Project Merit
  • Tentang Kami
    • Profil Aliansi
    • Anggota
    • Dewan Pengarah
    • Sekretariat Nasional
    • Jejaring
No Result
View All Result
Aliansi Zero Waste Indonesia
EnglishIndonesian
Home Feature

Dari Lombang ke TPA: Prinsip yang Terkubur oleh Kompleksitas Jenis Sampah

by Aliansi Zero Waste Indonesia
February 10, 2026
in Feature
Reading Time: 4min read
0
Dari Lombang ke TPA: Prinsip yang Terkubur oleh Kompleksitas Jenis Sampah
0
SHARES
51
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Indonesia kerap memiliki beragam cara pengelolaan sampah organik , mulai dari cara tradisional seperti lombang, hingga metode modern yang lebih dikenal hari ini seperti biopori, takakura, dan berbagai jenis komposter modern lainnya. Namun sayang, di tengah banyaknya metode tersebut, Indonesia justru menghadapi krisis sampah yang semakin serius, tempat pembuangan akhir (TPA) terus penuh, emisi gas rumah kaca meningkat dan beban pengelolaan sampah yang kian menekan pemerintah daerah dan masyarakat. Pertanyaannya, jika metode pengelolaan sampah organik sudah lama ada dan dikenal, kenapa Indonesia masih mengalami krisis sampah? dimana letak akar masalahnya?

Lombang atau yang juga dikenal di daerah Jawa Tengah sebagai jugangan, merupakan praktik pengelolaan sampah rumah tangga yang pernah lazim dilakukan sebelum plastik sekali pakai mendominasi kehidupan sehari-hari. lombang atau jugangan  adalah lubang galian di tanah yang digunakan untuk menimbun sisa-sisa organik, seperti sisa makanan, daun, dan sampah dapur, untuk kemudian dibiarkan terurai secara alami oleh mikroorganisme tanah. Pada konteks zamannya, praktik ini relatif aman dan efektif karena jenis sampah yang dihasilkan masyarakat masih didominasi material organik yang mudah terurai dan tidak meninggalkan residu berbahaya.

Jika ditarik ke saat ini, lombang sejatinya memiliki prinsip yang sama dengan berbagai metode pengelolaan sampah organik modern. Biopori misalnya, memanfaatkan tanah dan mikroorganisme untuk mengurai bahan organik sekaligus meningkatkan daya resap air. Takakura yang mengandalkan proses biologis aerobik untuk mengolah sisa-sisa makanan di skala rumah tangga serta berbagai komposter modern yang bekerja dengan prinsip serupa.

DESA CATUR HARJO BUAT 4.000 JUGANGAN DAN RUMAH PILAH UNTUK KURANGI VOLUME SAMPAH. foto: facebook

Semua metode ini memiliki satu syarat utama yaitu, sampah organik harus dipilah dengan kondisi yang bersih, karena begitu sampah organik tercampur dengan plastik, residu kimia atau material non organik lain, proses penguraian akan melambat kualitas kompos menurun dan resiko pencemaran akan meningkat.

Berkaca dari hal tersebut, bisa disimpulkan bahwa sebenarnya teknologi pengelolaan sampahnya sudah tersedia, namun sistem yang pemilahannya yang belum berjalan.

Data nasional: sampah Organik dominan, Tapi belum terolah sepenuhnya

Menurut data terakhir yang terdapat pada Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) tahun 2025,  lebih dari 50 persen sampah di Indonesia terdiri dari sampah organik, terutama sisa makanan sebanyak 40,68 persen, sebagian besar timbulan ini berasal dari rumah tangga.

Angka ini seharusnya bisa jadi potensi dan peluang besar, karena lebih dari separuh masalah sampah sebenarnya bisa diselesaikan di sumber, tanpa harus dibawa ke TPA. Namun realitanya saat ini sebagian besar sampah termasuk sampah organik masih dikumpulkan, diangkut dan ditimbun bersama-sama.

Akibatnya, TPA di berbagai daerah mengalami kelebihan kapasitas (overload). Sampah organik yang tertimbun menghasilkan gas metana, salah satu gas rumah kaca paling kuat. Selain itu, lindi dari timbunan sampah mencemari tanah dan air, memicu konflik sosial dan jelas berpotensi meningkat biaya pengelolaan lingkungan.

Jika sampah organik dipilah secara konsisten di tingkat rumah tangga, dampaknya akan sangat signifikan. Volume sampah sampah yang masuk ke TPA bisa berkurang drastis. Dari sisi iklim, pengelolaan organik melalui komposting atau biodigester menghasilkan emisi yang jauh lebih rendah dibandingkan penimbunan sampah di TPA. Dari sisi ekonomi, pemerintah daerah dapat menghemat biaya pengangkutan dan pengelolaan, sementara masyarakat bisa memanfaatkan kompos untuk kebutuhan lokal.

Lebih jauh lagi, pemilahan organik juga dapat  membuka peluang ekonomi sirkular tingkat komunitas, mulai dari produksi kompos hingga pakan maggot, namun semua ini hanya akan terjadi ketika sampah organik dipisahkan sejak dari awal.

Ragam material sampah dan sistem yang belum siap

Di sisi lain, krisis sampah yang terjadi hari ini seringkali dipandang sebagai persoalan individu. Padahal, masalahnya jauh lebih struktural. Berbagai jenis material yang beredar di masyarakat semakin kompleks, mulai dari plastik sekali pakai sampai kemasan multilayer yang sulit bahkan tidak bisa didaur ulang menjadi masalah yang kunjung belum bisa diselesaikan.

Pada saat yang sama, sistem pengelolaan sampah di Indonesia masih berfokus pada pendekatan hilir; kumpul, angkut, buang. Pemilahan di sumber belum menjadi prioritas kebijakan, infrastruktur pendukung terbatas dan insentif bagi masyarakat juga relatif kecil. Dalam kondisi seperti ini, menyalahkan Individu karena ‘malas memilah sampah’ rasanya terasa tidak adil, mesti ada sistem yang ikut mendukung agar proses memilah sampah dianggap sebagai solusi bukan beban tambahan bagi masyarakat.

Lalu Apakah Kita Harus kembali ke Lombang?

Bicara kembali soal lombang, bukan berarti masyarakat kembali ke praktik lama yang mungkin tidak lagi relevan dengan kondisi sampah hari ini, yang perlu dihidupkan kembali bukan lombangnya melainkan ‘prinsip dasarnya’. Pemilahan material, pengelolaan sampah dari sumber dan kesadaran bahwa sampah organik bukan residu melainkan sumber daya yang mengandung berbagai potensi termasuk ekonomi.

Sumber: kompasiana.com

Biopori, takakura dan komposter modern lainnya hanya efektif jika didukung oleh kebijakan yang serius dengan mendorong pemilahan sampah dari sumber dan edukasi publik yang konsisten. Tanpa hal tersebut masalah sampah yang terjadi saat ini akan terus berulang.

Lombang pernah ada dan bekerja karena material sampah yang dihasilkan masyarakat masih selaras dengan daya dukung lingkungan. Hari ini, krisis sampah bukan terjadi karena kita kehilangan pengetahuan, melainkan karena material yang kita produksi semakin kompleks dan bermasalah serta sistem pengelolaannya yang masih belum siap.

Solusinya bukan  mundur ke masa lalu, tapi tetap maju dengan belajar dari prinsip yang pernah ada dan benar. Mengurangi produksi sampah dari sejak awal, memilah sampah organik dan mengolahnya dengan metode yang relevan, menghentikan kebiasaan mencampur sampah dan tidak mengandalkan teknologi berbasis termal untuk menghabiskan sampah. 

Jika kita serius membenahi pemilahan dari sumber, sebagian besar masalah sampah di Indonesia sebenarnya sudah selesai setengah jalan. Bukan karena kita menemukan teknologi baru, tetap karena kita memilih untuk menggunakan prinsip yang benar. (Pidi)

Previous Post

Ketua Baru INC Terpilih, Negosiasi Perjanjian Global Plastik Kembali Dilanjutkan

Next Post

Bangun Budaya Pilah Sampah, 50 Rumah Tangga Desa Oro-Oro Ombo Ikuti Program Zero Waste Cities Kota Batu

  • Trending
  • Comments
  • Latest
Gaya Hidup Zero Waste Sebagai Solusi Hidup Minim Sampah

Anak Muda dan Zero Waste; Dari Perubahan Gaya Hidup Hingga Kebijakan

April 2, 2021
Budidaya Maggot BSF, Solusi Kurangi Sampah Makanan yang Bernilai Ekonomis

Budidaya Maggot BSF, Solusi Kurangi Sampah Makanan yang Bernilai Ekonomis

February 1, 2023
Permen LHK Nomor 75 Tahun 2019, Solusi Jitu Pengurangan Sampah Produsen?

Permen LHK Nomor 75 Tahun 2019, Solusi Jitu Pengurangan Sampah Produsen?

February 19, 2021
5 Rekomendasi Bulk Store Keren di Jakarta untuk Kamu!

5 Rekomendasi Bulk Store Keren di Jakarta untuk Kamu!

February 9, 2021
Gaya Hidup Zero Waste Sebagai Solusi Hidup Minim Sampah

Indonesia and Other Countries’ Efforts in Ending Plastic Pollution

7373
Pawai Bebas Plastik 2023: Dorong Pemerintah serta Produsen untuk Menghentikan Pencemaran Plastik

Pawai Bebas Plastik 2023: Dorong Pemerintah serta Produsen untuk Menghentikan Pencemaran Plastik

1371
plastic treaty

Mengungkap Solusi Palsu dalam Negosiasi Perjanjian Internasional tentang Plastik

928
Perdana, Kabupaten Gresik Akhirnya Punya Kampung Bebas Sampah Zero Waste Cities

Perdana, Kabupaten Gresik Akhirnya Punya Kampung Bebas Sampah Zero Waste Cities

98
Transformasi Pengelolaan Sampah Daerah Harus Dimulai dari Hulu, Bukan Solusi Instan Hilir

Transformasi Pengelolaan Sampah Daerah Harus Dimulai dari Hulu, Bukan Solusi Instan Hilir

April 14, 2026
Brand Audit Ungkap Dominasi Sampah Sachet Di Kota Kediri, Refill System Jadi Solusi Strategis

Brand Audit Ungkap Dominasi Sampah Sachet Di Kota Kediri, Refill System Jadi Solusi Strategis

April 9, 2026
Lonjakan Harga dan Krisis Pasokan Plastik Tunjukkan Saatnya Indonesia Beralih ke Sistem Guna Ulang

Lonjakan Harga dan Krisis Pasokan Plastik Tunjukkan Saatnya Indonesia Beralih ke Sistem Guna Ulang

April 6, 2026
Mikroplastik Ditemukan pada Otak Tikus, Bagaimana dengan Manusia?

Pembakaran Sampah Sumber Utama Mikroplastik di Udara Indonesia

March 29, 2026

Recent News

Transformasi Pengelolaan Sampah Daerah Harus Dimulai dari Hulu, Bukan Solusi Instan Hilir

Transformasi Pengelolaan Sampah Daerah Harus Dimulai dari Hulu, Bukan Solusi Instan Hilir

April 14, 2026
Brand Audit Ungkap Dominasi Sampah Sachet Di Kota Kediri, Refill System Jadi Solusi Strategis

Brand Audit Ungkap Dominasi Sampah Sachet Di Kota Kediri, Refill System Jadi Solusi Strategis

April 9, 2026
Lonjakan Harga dan Krisis Pasokan Plastik Tunjukkan Saatnya Indonesia Beralih ke Sistem Guna Ulang

Lonjakan Harga dan Krisis Pasokan Plastik Tunjukkan Saatnya Indonesia Beralih ke Sistem Guna Ulang

April 6, 2026
Mikroplastik Ditemukan pada Otak Tikus, Bagaimana dengan Manusia?

Pembakaran Sampah Sumber Utama Mikroplastik di Udara Indonesia

March 29, 2026
Aliansi Zero Waste Indonesia

Aliansi Zero Waste Indonesia | Go For Zero Waste

Follow Us

  • Facebook
  • TikTok
  • Instagram
  • YouTube
  • LinkedIn

© 2020 Aliansi Zero Waste Indonesia

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Artikel
    • Reportase
    • Siaran Pers
    • Feature
  • Publikasi
    • Laporan
    • Buletin
  • Pendekatan Zero Waste
    • Isu Strategis
      • Pengurangan Produksi Plastik
      • Penurunan Pola Konsumsi Plastik
      • Sistem Guna Ulang
      • Solusi Semu
      • Sampah Organik
    • Flagship Program
      • Zero Waste Cities and Island
      • Plastics Treaty
      • Brand Audit
      • Project Boost
      • Sekolah Ekologis
      • Project Merit
  • Tentang Kami
    • Profil Aliansi
    • Anggota
    • Dewan Pengarah
    • Sekretariat Nasional
    • Jejaring

© 2020 Aliansi Zero Waste Indonesia

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In