Friday, March 6, 2026
  • Login
EnglishIndonesian
Aliansi Zero Waste Indonesia
  • Beranda
  • Artikel
    • Reportase
    • Siaran Pers
    • Feature
  • Publikasi
    • Laporan
    • Buletin
  • Pendekatan Zero Waste
    • Isu Strategis
      • Pengurangan Produksi Plastik
      • Penurunan Pola Konsumsi Plastik
      • Sistem Guna Ulang
      • Solusi Semu
      • Sampah Organik
    • Flagship Program
      • Zero Waste Cities and Island
      • Plastics Treaty
      • Brand Audit
      • Project Boost
      • Sekolah Ekologis
      • Project Merit
  • Tentang Kami
    • Profil Aliansi
    • Anggota
    • Dewan Pengarah
    • Sekretariat Nasional
    • Jejaring
No Result
View All Result
Aliansi Zero Waste Indonesia
  • Beranda
  • Artikel
    • Reportase
    • Siaran Pers
    • Feature
  • Publikasi
    • Laporan
    • Buletin
  • Pendekatan Zero Waste
    • Isu Strategis
      • Pengurangan Produksi Plastik
      • Penurunan Pola Konsumsi Plastik
      • Sistem Guna Ulang
      • Solusi Semu
      • Sampah Organik
    • Flagship Program
      • Zero Waste Cities and Island
      • Plastics Treaty
      • Brand Audit
      • Project Boost
      • Sekolah Ekologis
      • Project Merit
  • Tentang Kami
    • Profil Aliansi
    • Anggota
    • Dewan Pengarah
    • Sekretariat Nasional
    • Jejaring
No Result
View All Result
Aliansi Zero Waste Indonesia
EnglishIndonesian
Home Siaran Pers

HPSN 2024: Pentingnya Aturan Regulasi Filter Plastik Puntung Rokok untuk Kurangi Dampak Kesehatan dan Lingkungan

by Aliansi Zero Waste Indonesia
April 19, 2024
in Siaran Pers
Reading Time: 5min read
0
HPSN 2024: Pentingnya Aturan Regulasi Filter Plastik Puntung Rokok untuk Kurangi Dampak Kesehatan dan Lingkungan
0
SHARES
256
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Siaran Pers

Untuk dirilis segera

Jakarta, 27 Februari 2024 – Aliansi Zero Waste Indonesia (AZWI) bersama Lentera Anak dan Nexus3 Foundation mengadakan webinar bertajuk “Dampak Filter Plastik Puntung Rokok Terhadap Kesehatan dan Lingkungan” guna membahas kedaruratan dari sampah puntung rokok yang selama ini yang selama ini kurang jadi perhatian di ranah publik, sebagai bentuk memperingati Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) 2024. Webinar ini diisi oleh para pakar lingkungan, diantaranya yakni Senior Advisor Nexus3 Foundation Yuyun Ismawati, Jalal dari Komite Nasional Pengendalian Tembakau, dan Ketua Yayasan Lentera Anak Lisda Sundara. Webinar ini juga dihadiri Ujang Solihin selaku Kepala Sub Direktorat Tata Laksana Produsen Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) sebagai penanggap, dan didampingi Soraya Haque sebagai moderator.

Puntung rokok adalah barang yang paling banyak dibuang sembarangan secara global. Sekitar 4,5 triliun filter rokok dibuang ke lingkungan setiap tahunnya. Sampah ini dengan mudah dibawa melalui aliran air hujan melalui sistem drainase dan akhirnya sampai ke sungai, sungai lokal, dan jalur air lainnya. Survei Kualitas Lingkungan Lokal di Inggris pada tahun 2017 menunjukkan bahwa 52% perokok yang merokok setiap hari menganggap membuang rokok di saluran air adalah hal yang lumrah.

“Puntung rokok adalah benda paling banyak berserakan di bumi. Selain itu terdapat berbagai macam zat berbahaya beracun yang terkandung di dalamnya, sehingga jika terbuang ke dalam air maka akan dapat mencemari biota-biota, dan jika dalam jumlah dan volume tertentu dapat membunuh 50% populasi yang ada,” kata Senior Advisor Nexus3 Foundation sekaligus Dewan Pengarah AZWI, Yuyun Ismawati.

Berdasarkan laporan WHO, bahan kimia berbahaya yang terlarut dari filter yang dibuang (termasuk nikotin, arsenik, dan logam berat) dapat bersifat toksik bagi lingkungan. Dari setiap rokok mengandung lebih dari 7.000 bahan kimia dan penelitian menunjukkan bahwa satu filter dapat mencemari hingga 40 liter air. Terlebih dari itu, filter pada puntung rokok membutuhkan waktu sedikitnya 15 tahun untuk terurai. Selama proses ini, ribuan serat mikroplastik terbentuk. Hal ini karena puntung filter yang terdapat di ujung rokok terbuat dari asetat selulosa yang dapat terdegradasi oleh cahaya.

“Selama 40 tahun produsen rokok telah membohongi publik. Filter rokok yang mengandung cellulose acetate yang memang diproduksi (man-made). Dalam kondisi normal produk yang terdapat kandungan tersebut termasuk produk cacat. Dalam campuran filter itu juga bermacam-macam ditambahkan supaya tidak terbakar dan tidak basah. Racunnya sangat banyak,” jelas Yuyun.

Foto Ilustrasi filter puntung rokok. (Sumber/liputan6)

Sementara itu, sampah filter rokok yang tersebar seharusnya menjadi tanggung jawab dari produsen tembakau. Perwakilan Komite Nasional Pengendalian Tembakau, Jalal menyebutkan saat ini Industri rokok merupakan contoh dari Corporate Social Irresponsibility. Artinya industri tidak bertanggung jawab atas dampak yang ditimbulkan karena masih menggunakan zat karsinogenik, yang bertentangan dengan standar ISO 26000 untuk tanggung jawab sosial perusahaan. 

“Seharusnya, tanggung jawab ini melihat dari dampak yang ditimbulkan dari keputusan dan aktivitasnya terhadap masyarakat dan lingkungan. Prinsipnya perlu mengacu pada ISO 2010 pada dokumen “Guidance on Social Responsibility” yang meliputi akuntabilitas, transparansi, perilaku etis, penghormatan kepada kepentingan stakeholder, kepatuhan kepada hukum, penghormatan, kepada norma perilaku internasional, penegakan HAM,” tegasnya.

Melihat besarnya dampak kesehatan dan lingkungan yang disebabkan filter puntung rokok, para pakar sepakat perlu ada keseriusan dari pihak pemerintah untuk mengklasifikasikan sampah tersebut dalam kategori B3 dan meninjau kembali peraturan terkait cukai rokok. Sebab, menurut Ketua Yayasan Lentera Anak Lisda Sundari, diperlukan sistematika perhitungan khusus atas dampak yang ditimbulkan, seperti menimbang faktor dari ekonomi kesehatan. 

“Betul memang Indonesia negara dengan penerimaan dari cukai rokok yang tinggi hingga 126 Triliun, tapi cukai bukanlah pendapatan namun pajak dosa yang harus dibayarkan karena membahayakan kesehatan dan lingkungan. Biaya cukai yang 126 Triliun itu jika dibandingkan dengan biaya yang harus dikeluarkan oleh negara untuk penyakit yang disebabkan karena rokok itu mencapai 3x lipatnya,” paparnya.

“Berdasarkan best practices dari WHO cukai rokok itu seharusnya 80%, sedangkan aturan dalam UU di Indonesia hanya 57%. Prakteknya pun masih jauh dari itu,” tambah Lisda.

Tak hanya Lisda, Jalal juga mengamini hal yang sama. Menurutnya, jika cukai rokok juga memperhitungkan dampak yang ditimbulkannya terhadap kesehatan dan lingkungan, maka nilainya akan lebih dari jumlah ekonominya. Hal ini lah yang menjadikan harga rokok di negara tetangga lebih mahal dari Indonesia. Oleh karena itu, kerjasama antar organisasi kesehatan dan lingkungan, kampanye publik dan advokasi kebijakan, penguatan aturan terkait pertanian tembakau, mendorong peningkatan cukai rokok, dan menuntut secara hukum industri rokok yang tidak bertanggung jawab sangat krusial untuk dijalankan.

Mengakhiri webinar ini, Kepala Sub Direktorat Tata Laksana Produsen KLHK, Ujang Solihin mengatakan sepakat atas rekomendasi yang telah disampaikan para pakar. Meski demikian, edukasi tetap perlu terus dilakukan untuk memberikan wawasan kepada masyarakat terhadap dampak dari sampah puntung rokok itu sendiri.

“PR terbesar kami dari pemerintah, khususnya KLHK, ada dua. Pertama, untuk menyatakan apakah sampah ini bisa dikategorikan sebagai sampah B3. Kedua, terkait penelitian dan pengembangan, penting bagi Indonesia untuk mengkaji dampak ini terhadap lingkungan dan ekosistem. Terhadap kesehatan juga, bukan dari sisi tembakaunya saja, tapi juga sampahnya. Kami juga sepakat terkait EPR, bahwa pemerintah perlu menyusun peta jalan pengurangan sampah dari puntung rokok,” tutupnya.

Rekomendasi para pakar:

  • EPR harus diterapkan sehingga puntung rokok bisa diambil dan dibawa ke tempat pemrosesan sampah dengan biaya produsen itu sendiri, tidak dibebankan ke pemerintah kota maupun nasional
  • Mengembangkan roadmap penanganan puntung rokok, karena ini merupakan salah satu dari Top 10 sampah yang selalu akan ada di Indonesia 
  • Mendukung penelitian yang lebih masif tentang bahaya puntung rokok dan proses daur ulang yang aman
  • Sebagai salah satu produsen dan eksportir dari fiber cellulose acetate ini, kita perlu dorong produsen untuk mencari pengganti bahan filter dari puntung rokok sebagai pihak yang punya sumber daya.  Ada material atau bahan lainnya yang bisa dipakai sebagai pengganti
  • Meninjau lagi kebijakan tax holiday di Indonesia untuk industri pencemar, seperti tax
  • Mendukung negosiasi perjanjian plastik dalam Global Plastic Treaty.

***

Kontak media:

Kia, Staf Komunikasi Aliansi Zero Waste Indonesia, kia@aliansizerowaste.id, +6285215809537

Tentang Aliansi Zero Waste Indonesia (AZWI)

Organisasi non pemerintah yang terdiri dari YPBB, Dietplastik Indonesia Nexus3 Foundation, PPLH Bali, ECOTON, ICEL, Nol Sampah Surabaya, Greenpeace Indonesia, Gita Pertiwi dan WALHI. AZWI mengkampanyekan implementasi konsep Zero Waste yang benar dalam rangka pengarusutamaan melalui berbagai kegiatan, program, dan inisiatif Zero Waste yang sudah ada untuk diterapkan di berbagai kota dan kabupaten di Indonesia dengan mempertimbangkan hirarki pengelolaan sampah, dan siklus hidup material.

Tentang Lentera Anak


Lentera Anak adalah lembaga independen dalam perlindungan dan pemenuhan hak anak dan juga merupakan anggota Stop Tobacco Pollution Alliance (STPA) yang bertujuan mempromosikan keselarasan antara WHO FCTC and Plastics Treaty. Cita-cita Lentera Anak adalah mendukung terwujudnya Indonesia sebagai Negara Demokratis yang Ramah Anak. Untuk mencapai cita- cita tersebut, Lentera Anak mengambil upaya intervensi lebih dini yaitu preventif dan promotif dengan melibatkan komunitas, keluarga bahkan anak itu sendiri juga stakeholder lainnya termasuk pengambil kebijakan melalui edukasi, pemberdayaan, kampanye, studi dan kajian serta advokasi kebijakan yang ramah anak. lenteraanak.org / lenteraanak.or.id

***

Tags: mikroplastikpuntung rokoksampahsampah puntung rokokzero waste
Previous Post

Peringati HPSN Kampung SIBA KLASIK di Gresik Buka Toko Refill

Next Post

Peringati Hari Sampah Nasional, ECOTON Ingatkan Masyarakat Berhenti Pakai Plastik Sekali Pakai

  • Trending
  • Comments
  • Latest
Gaya Hidup Zero Waste Sebagai Solusi Hidup Minim Sampah

Anak Muda dan Zero Waste; Dari Perubahan Gaya Hidup Hingga Kebijakan

April 2, 2021
Budidaya Maggot BSF, Solusi Kurangi Sampah Makanan yang Bernilai Ekonomis

Budidaya Maggot BSF, Solusi Kurangi Sampah Makanan yang Bernilai Ekonomis

February 1, 2023
Permen LHK Nomor 75 Tahun 2019, Solusi Jitu Pengurangan Sampah Produsen?

Permen LHK Nomor 75 Tahun 2019, Solusi Jitu Pengurangan Sampah Produsen?

February 19, 2021
5 Rekomendasi Bulk Store Keren di Jakarta untuk Kamu!

5 Rekomendasi Bulk Store Keren di Jakarta untuk Kamu!

February 9, 2021
Gaya Hidup Zero Waste Sebagai Solusi Hidup Minim Sampah

Indonesia and Other Countries’ Efforts in Ending Plastic Pollution

7373
Pawai Bebas Plastik 2023: Dorong Pemerintah serta Produsen untuk Menghentikan Pencemaran Plastik

Pawai Bebas Plastik 2023: Dorong Pemerintah serta Produsen untuk Menghentikan Pencemaran Plastik

1371
plastic treaty

Mengungkap Solusi Palsu dalam Negosiasi Perjanjian Internasional tentang Plastik

928
Perdana, Kabupaten Gresik Akhirnya Punya Kampung Bebas Sampah Zero Waste Cities

Perdana, Kabupaten Gresik Akhirnya Punya Kampung Bebas Sampah Zero Waste Cities

98
Bangun Budaya Pilah Sampah, 50 Rumah Tangga Desa Oro-Oro Ombo Ikuti Program Zero Waste Cities Kota Batu

Bangun Budaya Pilah Sampah, 50 Rumah Tangga Desa Oro-Oro Ombo Ikuti Program Zero Waste Cities Kota Batu

February 13, 2026
Dari Lombang ke TPA: Prinsip yang Terkubur oleh Kompleksitas Jenis Sampah

Dari Lombang ke TPA: Prinsip yang Terkubur oleh Kompleksitas Jenis Sampah

February 10, 2026
Ketua Baru INC Terpilih, Negosiasi Perjanjian Global Plastik Kembali Dilanjutkan

Ketua Baru INC Terpilih, Negosiasi Perjanjian Global Plastik Kembali Dilanjutkan

February 9, 2026
Dietplastik Indonesia Luncurkan FIREFLIES, Dorong Perubahan Sistem Pengelolaan Sampah Berbasis Warga

Dietplastik Indonesia Luncurkan FIREFLIES, Dorong Perubahan Sistem Pengelolaan Sampah Berbasis Warga

February 6, 2026

Recent News

Bangun Budaya Pilah Sampah, 50 Rumah Tangga Desa Oro-Oro Ombo Ikuti Program Zero Waste Cities Kota Batu

Bangun Budaya Pilah Sampah, 50 Rumah Tangga Desa Oro-Oro Ombo Ikuti Program Zero Waste Cities Kota Batu

February 13, 2026
Dari Lombang ke TPA: Prinsip yang Terkubur oleh Kompleksitas Jenis Sampah

Dari Lombang ke TPA: Prinsip yang Terkubur oleh Kompleksitas Jenis Sampah

February 10, 2026
Ketua Baru INC Terpilih, Negosiasi Perjanjian Global Plastik Kembali Dilanjutkan

Ketua Baru INC Terpilih, Negosiasi Perjanjian Global Plastik Kembali Dilanjutkan

February 9, 2026
Dietplastik Indonesia Luncurkan FIREFLIES, Dorong Perubahan Sistem Pengelolaan Sampah Berbasis Warga

Dietplastik Indonesia Luncurkan FIREFLIES, Dorong Perubahan Sistem Pengelolaan Sampah Berbasis Warga

February 6, 2026
Aliansi Zero Waste Indonesia

Aliansi Zero Waste Indonesia | Go For Zero Waste

Follow Us

  • Facebook
  • TikTok
  • Instagram
  • YouTube
  • LinkedIn

© 2020 Aliansi Zero Waste Indonesia

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Artikel
    • Reportase
    • Siaran Pers
    • Feature
  • Publikasi
    • Laporan
    • Buletin
  • Pendekatan Zero Waste
    • Isu Strategis
      • Pengurangan Produksi Plastik
      • Penurunan Pola Konsumsi Plastik
      • Sistem Guna Ulang
      • Solusi Semu
      • Sampah Organik
    • Flagship Program
      • Zero Waste Cities and Island
      • Plastics Treaty
      • Brand Audit
      • Project Boost
      • Sekolah Ekologis
      • Project Merit
  • Tentang Kami
    • Profil Aliansi
    • Anggota
    • Dewan Pengarah
    • Sekretariat Nasional
    • Jejaring

© 2020 Aliansi Zero Waste Indonesia

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In