Di tengah meningkatnya ancaman polusi plastik dan masih dominannya pendekatan pengelolaan sampah yang berfokus pada penanganan di hilir, Aliansi Zero Waste Indonesia (AZWI) menggelar pemutaran film dokumenter The Plastic Detox yang dilanjutkan dengan diskusi publik di Rumata Artspace, Makassar, Kamis (24/07/2026) lalu. Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian peringatan Plastic Free July 2026 yang mempertemukan pemerintah daerah, organisasi masyarakat sipil, akademisi, komunitas, dan media untuk mengajak publik memahami bahwa akar persoalan krisis plastik tidak hanya terletak pada timbulan sampahnya, tetapi juga pada kandungan bahan kimia berbahaya yang terdapat di dalam plastik dan dampaknya terhadap kesehatan manusia. Banyak masyarakat belum menyadari bahwa bahan kimia tersebut dapat terlepas sepanjang siklus hidup plastik, mulai dari proses produksi, penggunaan, hingga menjadi sampah, dan masuk ke dalam tubuh manusia melalui makanan, minuman, maupun udara.
Meski berbagai kebijakan pengelolaan sampah telah diterapkan, timbulan sampah plastik masih terus meningkat dan berdampak pada lingkungan, kesehatan, serta kehidupan sosial ekonomi masyarakat. Melalui The Plastic Detox, peserta diajak memahami bahwa krisis plastik bukan semata persoalan sampah yang terlihat, melainkan juga ancaman kesehatan yang tidak kasatmata. Film ini mengungkap bagaimana paparan bahan kimia dalam plastik dapat mengganggu sistem hormon, memengaruhi perkembangan janin dan anak, menurunkan kesehatan reproduksi, serta meningkatkan risiko berbagai penyakit dan mengancam generasi mendatang, sehingga solusi terhadap krisis plastik tidak cukup berhenti pada pengelolaan sampah di hilir.
Diskusi setelah pemutaran film kemudian menghubungkan pesan tersebut dengan kondisi di Indonesia, khususnya Kota Makassar dan Sulawesi Selatan, melalui pembahasan tantangan, praktik baik, dan peluang kolaborasi untuk mendorong pengurangan plastik dari sumber, mendorong tanggung jawab dan transparansi terkait bahan kimia beracun plastik kepada produsen, memperkuat sistem guna ulang (reuse system), serta membangun sistem pengelolaan sampah yang lebih aman, adil, dan berkelanjutan.
Polusi Plastik Tidak Hanya Menjadi Persoalan Sampah
Salah satu isu yang mengemuka dalam diskusi adalah masih minimnya perhatian terhadap kandungan bahan kimia yang terdapat di dalam plastik. Selama ini, persoalan plastik lebih sering dipahami sebagai masalah sampah yang mencemari lingkungan, padahal risiko yang ditimbulkannya juga berkaitan dengan paparan bahan kimia yang dapat memengaruhi kesehatan manusia.
Koordinator AZWI, Nindhita Proboretno memaparkan bahwa manusia bukan hanya menjadi pihak yang menghasilkan sampah plastik, tetapi juga menjadi kelompok yang paling terdampak oleh keberadaan bahan kimia yang terkandung di dalamnya. Namun, isu mengenai kandungan bahan kimia dalam plastik masih belum menjadi perhatian utama dalam penyusunan kebijakan maupun diskusi publik mengenai pengelolaan sampah plastik.
“Isu terkait paparan bahan kimia berbahaya di plastik belum menjadi perhatian pemerintah di Indonesia. Kalau pemerintahnya saja belum aware, bagaimana kita sebagai konsumen? kita tidak pernah tau bahan kimia apa saja yang terkandung dari proses produksi plastik. Industri tidak pernah transparan menyampaikan hal ini, padahal dampaknya sangat fatal terhadap kesehatan kita,” papar Nindhi.
Ia juga menyoroti bahwa berbagai penelitian mengenai bahan kimia dalam plastik sebenarnya telah banyak dilakukan. Meski demikian, informasi mengenai jenis-jenis bahan kimia tersebut masih terbatas untuk publik karena sebagian besar hasil penelitian dipublikasikan dalam bahasa ilmiah yang sulit dipahami masyarakat. Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri dalam membangun kesadaran publik mengenai risiko paparan bahan kimia dari produk plastik yang digunakan sehari-hari.

Sistem Guna Ulang Dimulai dari Desain Produk dan Pilihan Konsumen
Selain membahas dampak plastik terhadap kesehatan, diskusi juga menyoroti pentingnya membangun sistem yang mampu mengurangi penggunaan plastik sekali pakai sejak sumbernya melalui pengembangan sistem guna ulang (reuse system). Pendekatan ini dinilai perlu didukung kebijakan seperti Extended Producer Responsibility (EPR) yang mendorong produsen bertanggung jawab atas seluruh siklus hidup kemasan, termasuk merancang produk yang dapat digunakan kembali dan mengurangi ketergantungan pada plastik sekali pakai.
Research Manager Dietplastik Indonesia, Zakiyus Shadicky, menjelaskan bahwa praktik guna ulang sebenarnya telah lama menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, misalnya melalui penggunaan piring keramik dan gelas kaca di rumah. Namun, kebiasaan tersebut sering terhenti saat masyarakat beraktivitas di luar rumah karena sistem masih didominasi kemasan plastik sekali pakai. Menurutnya, tantangan utama bukan pada kesiapan masyarakat untuk menggunakan kembali kemasan, melainkan pada minimnya pilihan dan dukungan sistem, termasuk komitmen produsen melalui penerapan EPR yang mendorong penyediaan kemasan guna ulang secara lebih luas
“Konsumen juga memiliki peran penting dalam mendorong perubahan. Selain memilih alternatif yang lebih ramah lingkungan ketika tersedia, masyarakat juga dapat menyampaikan kepada produsen bahwa kita nggak mau produk sekali pakai lagi. Kita ingin guna ulang,” kata Zakiyus.

Pengalaman Daerah Menunjukkan Pentingnya Kolaborasi
Selain membahas tantangan di tingkat nasional, diskusi juga mengangkat berbagai pengalaman dari Sulawesi Selatan yang menunjukkan bahwa upaya mengurangi polusi plastik perlu dilakukan secara menyeluruh, mulai dari pengurangan sampah di sumber hingga pembenahan sistem pengelolaan di hilir. Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Makassar, Helmy Budiman, menjelaskan bahwa Pemerintah Kota Makassar telah menerapkan Peraturan Wali Kota Makassar Nomor 21 Tahun 2023 yang melarang pusat perbelanjaan, toko modern, dan pasar rakyat menyediakan kantong plastik sekali pakai sebagai bagian dari upaya menekan timbulan sampah. Langkah ini menjadi semakin penting karena Kota Makassar juga tengah bersiap menghadapi penutupan tempat pemrosesan akhir (TPA) dengan sistem open dumping sebagaimana diamanatkan Kementerian Lingkungan Hidup. Kondisi tersebut menegaskan bahwa pengurangan sampah dari sumber bukan lagi sekadar pilihan, melainkan kebutuhan untuk mengurangi beban sampah yang berakhir di TPA.
“Kami sedang mempersiapkan skema penutupan TPA pada Agustus nanti secara serentak di TPA-TPA open dumping di seluruh Indonesia. Sebagaimana arahan dari Walikota yang berdasarkan keputusan Menteri LH, bahwa tidak ada lagi TPA open dumping yang boleh beroperasi. Kami berharap masyarakat hingga pelaku usaha sudah mulai memilah sampah dari sumbernya atau dari rumah dan tidak lagi membuang sampah tercampur ke TPA Tamangapa,” jelasnya.
Menanggapi hal tersebut, Kepala Departemen Riset dan Keterlibatan Publik WALHI Sulawesi Selatan, Slamet Riyadi menegaskan bahwa kunci pengelolaan sampah yang efektif terletak alokasi anggaran yang tepat. Slamet menyebutkan, layanan persampahan juga harus maksimal dan tegas, bahwa tidak ada sampah tercampur dari sumber sama sekali.
“Pengelolaan sampah yang efektif harus dimulai dari pengalokasian anggaran yang berbasis data timbulan sampah di setiap kecamatan. Transparansi data menjadi kunci agar kebijakan dan penggunaan anggaran tepat sasaran serta dapat diawasi publik. Di sisi lain, pemerintah juga harus berani menerapkan sanksi yang tegas kepada pihak-pihak yang tidak mematuhi aturan pengurangan dan pemilahan sampah. Pendekatan berbasis data dan penegakan hukum yang konsisten harus berjalan beriringan agar target pengurangan sampah dapat tercapai,” ujar Slamet Riyadi.
Di sisi lain, sejatinya sudah banyak gerakan anak muda untuk mengurangi sampah di Kota Makassar. Salah satunya yakni komunitas Rekan Sampah. Rekan Sampah adalah gerakan relawan lingkungan di kota Makassar yang berada di bawah naungan komunitas budaya Rumata’ Artspace. Komunitas ini fokus pada edukasi publik tentang cara memilah sampah langsung dari sumbernya. Melalui akun resmi @rekansampah di Instagram, mereka aktif membagikan dokumentasi kegiatan serta literasi.
“Salah satu yang kami sudah coba lakukan sejak 2019 melalui salah satu program Makassar International Writers Festival adalah mengubah cara kita merencanakan sebuah kegiatan dengan meminimalisir sampah. Meminimalisir sampah seharusnya tidak dimulai ketika sampah sudah dihasilkan, tetapi sejak tahap perencanaan kegiatan. Jadi, sebelum kami menentukan sampah yang akan dipilah atau dibuang menjadi residu, kami memetakan apakah kebutuhan-kebutuhan ini bisa dipenuhi tanpa menghasilkan sampah? Khususnya penggunaan plastik sekali pakai,” jelas Nur Asyifah dari Rekan Sampah.
Dari kegiatan MIWF, kata Syifa, akan ada konsumsi untuk ratusan bahkan ribuan orang, hal ini meningkatkan potensi terjadinya sampah terutama sekali pakai. Komunitas Rekan Sampah berupaya untuk meminimalisir sampah dengan mengusung konsep guna ulang, menghindari penggunaan kemasan sekali pakai untuk makanan dan minuman.
“Prinsipnya adalah bukan hanya persoalan bagaimana sampah yang sudah ada bisa kita kelola, tapi bagaimana kita merancang kegiatan supaya sampahnya diminimalisir mungkin sejak awal,” lanjutnya.
Diskusi yang berlangsung sepanjang kegiatan menunjukkan bahwa tidak ada satu solusi yang mampu menyelesaikan persoalan sampah terutama plastik secara sendirian. Upaya pengurangan sampah memerlukan kombinasi kebijakan yang kuat, perubahan perilaku masyarakat, inovasi sistem guna ulang, serta kolaborasi yang konsisten antara pemerintah, dunia usaha, komunitas, media, dan organisasi masyarakat sipil.

Melalui penyelenggaraan pemutaran film The Plastic Detox dan diskusi publik ini, AZWI berharap semakin banyak pihak memahami bahwa penyelesaian krisis plastik harus dimulai dari hulu, yakni dengan mengurangi produksi dan konsumsi plastik sekali pakai serta memperluas penerapan sistem guna ulang. Pendekatan tersebut dinilai lebih mampu menjawab akar persoalan dibanding hanya berfokus pada pengelolaan sampah setelah limbah terbentuk.
Dokumentasi klik di sini
Aliansi Zero Waste Indonesia (AZWI)
Aliansi Zero Waste Indonesia (AZWI) adalah jaringan organisasi yang mengkampanyekan implementasi konsep zero waste melalui berbagai program dan inisiatif. AZWI berkomitmen mendorong kebijakan dan praktik pengelolaan sampah yang berkelanjutan berdasarkan prinsip hirarki pengelolaan sampah dan siklus hidup material.
Kontak:
Kia, Communication Manager AZWI 08138919820, kia@aliansizerowaste.id










