Monday, April 20, 2026
  • Login
EnglishIndonesian
Aliansi Zero Waste Indonesia
  • Beranda
  • Artikel
    • Reportase
    • Siaran Pers
    • Feature
  • Publikasi
    • Laporan
    • Buletin
  • Pendekatan Zero Waste
    • Isu Strategis
      • Pengurangan Produksi Plastik
      • Penurunan Pola Konsumsi Plastik
      • Sistem Guna Ulang
      • Solusi Semu
      • Sampah Organik
    • Flagship Program
      • Zero Waste Cities and Island
      • Plastics Treaty
      • Brand Audit
      • Project Boost
      • Sekolah Ekologis
      • Project Merit
  • Tentang Kami
    • Profil Aliansi
    • Anggota
    • Dewan Pengarah
    • Sekretariat Nasional
    • Jejaring
No Result
View All Result
Aliansi Zero Waste Indonesia
  • Beranda
  • Artikel
    • Reportase
    • Siaran Pers
    • Feature
  • Publikasi
    • Laporan
    • Buletin
  • Pendekatan Zero Waste
    • Isu Strategis
      • Pengurangan Produksi Plastik
      • Penurunan Pola Konsumsi Plastik
      • Sistem Guna Ulang
      • Solusi Semu
      • Sampah Organik
    • Flagship Program
      • Zero Waste Cities and Island
      • Plastics Treaty
      • Brand Audit
      • Project Boost
      • Sekolah Ekologis
      • Project Merit
  • Tentang Kami
    • Profil Aliansi
    • Anggota
    • Dewan Pengarah
    • Sekretariat Nasional
    • Jejaring
No Result
View All Result
Aliansi Zero Waste Indonesia
EnglishIndonesian
Home Siaran Pers

Mencari Arah Baru Pengelolaan Sampah Bandung Raya Tanpa Solusi Semu

by Aliansi Zero Waste Indonesia
July 24, 2025
in Siaran Pers
Reading Time: 6min read
0
Mencari Arah Baru Pengelolaan Sampah Bandung Raya Tanpa Solusi Semu
0
SHARES
255
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Siaran Pers 

Untuk dirilis segera 

Bandung, 20 Juli 2025 – Aliansi Zero Waste Indonesia (AZWI) bersama Ngadaur mengadakan Diskusi Publik bertajuk “TPA Ditutup, Lalu Apa? Mencari Arah Baru Pengelolaan Sampah Bandung Raya” pada Minggu, 20 Juli 2025 di Hutanika Bandung. Kegiatan ini digelar sebagai respons atas kebijakan nasional penutupan seluruh TPA open dumping dan krisis pengelolaan sampah yang terjadi di Bandung Raya.

Pada Februari 2025, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mengeluarkan Surat Edaran No. SE.14/MENLHK/PSLB3/PLB.0/2/2025 yang menginstruksikan penutupan semua Tempat Pembuangan Akhir (TPA) yang masih menerapkan sistem open dumping dalam waktu 12 bulan. TPA Sarimukti, yang melayani wilayah Bandung Raya termasuk Kota Bandung, Kabupaten Bandung, Kota Cimahi, dan Kabupaten Bandung Barat, menjadi salah satu yang terdampak. TPA ini sebelumnya mengalami kebakaran hebat pada Agustus 2023, menyebabkan lebih dari 8.000 ton sampah menumpuk dan mengganggu layanan dasar warga. Peristiwa ini memperlihatkan kerentanan sistem persampahan yang sangat terpusat.

Kondisi persampahan di Kota Bandung saat ini menunjukkan total timbulan harian sebesar 1.496 ton, setara dengan 262 rit/hari, dengan sampah rumah tangga sebagai penyumbang terbesar, dan dominasi sampah organik mencapai 60% (data SIPSN 2024). Kapasitas TPA Sarimukti sendiri sudah melebihi batas. Ritase pengangkutan dari Kota Bandung dipaksa untuk turun dari 174 rit/hari menjadi 140 rit/hari. Dari total timbulan sampah, 53,5% masih terangkut ke TPA, 22,2% berhasil dikurangi, dan 24% tidak terkelola.

Kepala Bidang LPB3 DLH Kota Bandung Salam Faruq menyebutkan Meski 50% sampah masih diangkut ke TPA, upaya pengurangan terus dilakukan, antara lain melalui penguatan TPST, bank sampah, hingga pemberdayaan pemulung. Saat ini baru sekitar 30% RW yang mengelola sampah secara mandiri, namun ditargetkan mencapai 800 RW pada akhir tahun. Di sisi lain, Salman juga menyoroti tantangan tata kelola di lapangan, termasuk pengelolaan TPS yang seringkali dikuasai oleh pihak non resmi.

“Kedepan harapannya jumlah reduksi sampah bisa berkurang. Kami ada konsep baru, yakni kumpul-angkut-olah-musnah-manfaatkan, dengan catatan residu tetap ke TPA. Rencana aksi tidak bergantung ke TPA,” jelas Salman.

Alih-alih mendukung pendekatan pemusnahan sampah, Senior Advisor Nexus3 Foundation Yuyun Ismawati, mengkritisi penggunaan insinerator dan RDF yang dinilai berisiko tinggi bagi kesehatan dan lingkungan. Ia mengingatkan bahwa insinerator adalah teknologi lama yang sudah digunakan sejak awal 1900-an, namun tetap dipromosikan tanpa proses validasi yang memadai. “Standar Technology Readiness Level untuk menilai kesiapan teknologi kini dihilangkan, sementara standar emisi dioxin terus dilonggarkan, dan pengukurannya hanya dilakukan lima tahun sekali,” ujarnya.

Senior Advisor, Yuyun Ismawati. (Dok: AZWI)

Yuyun juga menyoroti bahwa dampak kesehatan dari insinerator jauh lebih besar dibanding TPA. Biaya kesehatan akibat insinerator diperkirakan mencapai 132 dolar per ton sampah, tiga kali lipat dari TPA, dengan risiko tinggi terhadap gangguan hormon, kanker, dan kesehatan reproduksi akibat paparan dioxin. “Di Indonesia, limbah abu pembakaran tergolong limbah B3, tapi belum diatur jelas. Bahkan, sampel daging dan jeroan sapi di sekitar TPA terbukti mengandung dioxin,” jelasnya.

Menurut Yuyun, RDF bukan solusi karena hanya mengubah bentuk sampah menjadi pelet yang tetap dibakar dan menghasilkan emisi beracun. Ia menegaskan bahwa membangun insinerator atau RDF di setiap kelurahan hanya akan memperluas paparan racun ke masyarakat. Padahal mandat UU Pengelolaan Sampah No.18/2008 sangat jelas menegaskan; Minimisasi, pengurangan sampah di sumber, hirarki sampah, lalu melarang setiap orang membakar sampah yang tidak layak teknis, serta melarang memasukkan limbah.

Mengamini hal yang sama, Direktur Eksekutif Yaksa Pelestari Bumi Berkelanjutan (YPBB) David Sutasurya mengingatkan bahwa misi Bandung sebagai kota jasa dan pariwisata tidak sejalan dengan pembangunan insinerator, yang bisa menurunkan daya tarik wisata. Ia menekankan bahwa solusi harus mengarah pada sistem yang menghemat sumber daya dan menurunkan emisi gas rumah kaca, sesuai mandat UU Pengelolaan Sampah. 

“Dari UU pengelolaan sampah tujuannya menghemat sumber daya, menurunkan emisi Gas Rumah Kaca (GRK), karena sampah adalah penyumbang kedua metana setelah pertanian dan pengelolaan sampah dialihkan dari tanggung jawab PU menjadi tanggung jawab LH , tapi LH saat ini mendorong cara yang memboros sumber daya alam,” papar David.

Direktur Eksekutif YPBB, David Sutasurya.(Dok. AZWI)

Sampah organik seperti food waste dan garden waste dapat menyelesaikan sebagian besar masalah jika dikelola dengan benar, sementara kemasan bermasalah seperti sachet multilayer perlu didesain ulang menjadi satu lapis agar dapat didaur ulang. Masalah paling mendasar saat ini adalah sampah tercampur, yang membahayakan petugas dan menghasilkan kompos yang tidak layak.

“YPBB dengan sistem semi volunteer dapat mengelola sampah sebanyak 39%-70% sampah yang dikelola di setiap wilayah. Dengan model yang sudah ada, perlu ada dukungan dari pemerintah yang perlu melakukan scale up, yang mereplikasi sistem zero waste city,” tambahnya.

Jika sistem zero waste dan guna ulang dijalankan secara konsisten, maka selain ramah lingkungan, sistem ini juga akan lebih hemat APBD dan menyerap lebih banyak tenaga kerja dibandingkan insinerator. Model ini terbukti efektif di beberapa wilayah dan dapat segera diterapkan lebih luas, terutama karena Kota Bandung sudah memiliki dasar hukum berupa perda tentang pemilahan sampah.

Perspektif lintas sektor juga disampaikan oleh Amnu Fuady, Asisten Deputi Bidang Pariwisata Berkelanjutan Kemenparekraf. Ia menegaskan bahwa persoalan sampah bukan hanya isu teknis, tetapi juga berdampak pada sektor ekonomi dan pariwisata. “Sektor pariwisata turut berkontribusi terhadap perubahan iklim, salah satunya melalui limbah plastik dari hotel dan restoran. Oleh karena itu, pengelolaan sampah harus melibatkan sinergi antara pemerintah, swasta, industri, dan masyarakat agar tidak berjalan sendiri-sendiri,” tegasnya.

Senada dengan itu, Ainun Naim, dosen Teknik Lingkungan ITENAS, menekankan bahwa arah baru pengelolaan sampah harus bersifat kolektif dan kolaboratif. “Selama ini kita masih terlalu bergantung pada TPA, padahal upaya pengurangan seharusnya menjadi fokus utama. Tantangan utamanya adalah lemahnya kehadiran pemerintah di sektor hulu, terutama dalam pengumpulan dan pemilahan,” jelasnya. Ia juga menyoroti bahwa sektor perdagangan dan jasa menjadi penyumbang terbesar food waste di Bandung, sementara industri dan HOREKA minim akuntabilitas. Ainun menyebut, untuk mewujudkan pengelolaan sampah yang berkelanjutan, perlu lima aspek pendukung: regulasi yang jelas, sistem operasional, infrastruktur antara, sistem informasi dan pencatatan yang solid, serta kelembagaan yang melibatkan seluruh pihak.

Mengamini hal yang sama, Co Founder Ngadaur Tubagus Ari memaparkan sistem pemilahan sampah dan komposting akan lebih bermanfaat dan bisa lebih banyak membuka lapangan kerja dibandingkan insinerator. “Dengan pemilahan dan  komposting kita bisa memberdayakan petani, peternak dan juga pemulung, insinerator sendiri bertentangan dengan prinsip zero waste,” tambah Ari.

“Transisi sistem persampahan tidak cukup dengan mengganti TPA dengan insinerator. Yang kita butuhkan adalah perubahan sistemik yang berakar dari pengurangan sampah di sumber, pengelolaan organik secara lokal, dan penguatan sistem reuse berbasis komunitas. Pengalaman di Bandung menunjukkan bahwa pendekatan Zero Waste bisa berhasil jika didukung oleh kebijakan yang adil dan partisipasi warga,” pungkas Rahyang Nusantara, Co-coordinator AZWI.

Sebagai informasi, acara ini berkolaborasi dengan Hutanika, sebuah restoran berwawasan lingkungan di tengah-tengah Kota Bandung yang menerapkan prinsip minim sampah dalam operasionalnya. Hutanika menunjukkan praktik nyata dari nilai-nilai keberlanjutan, termasuk melalui penyajian konsumsi yang ramah lingkungan selama acara.

-Selesai-

dokumentasi dapat diunduh disini

Narahubung:

Kia, Comms Officer AZWI
Email: kia@aliansizerowaste.id
Telepon: 0852 1580 9537

Tentang Aliansi Zero Waste Indonesia (AZWI)

Aliansi Zero Waste Indonesia (AZWI) adalah jaringan organisasi yang mengkampanyekan implementasi konsep zero waste yang benar melalui berbagai program dan inisiatif. AZWI berkomitmen untuk mendorong kebijakan dan praktik pengelolaan sampah yang berkelanjutan berdasarkan prinsip hirarki pengelolaan sampah dan siklus hidup material.

Website: aliansizerowaste.id

Tentang Ngadaur

Ngadaur adalah startup berbasis sosial dan lingkungan yang berlokasi di Kota Bandung. Ngadaur berfokus pada pengolahan sampah organik menjadi produk ramah lingkungan. Melalui inovasi berkelanjutan, Ngadaur berkomitmen mendukung pelestarian lingkungan dan mendorong kolaborasi lintas sektor dalam menjaga keberlanjutan bumi.

Website: ngadaurorganik.framer.website

Tags: bandungkrisis iklimplastik sekali pakaizero wastezero waste citieszero waste lifestyle
Previous Post

Peringati Hari Lingkungan Hidup Sedunia, SD Alami Driyorejo Launching Buku

Next Post

Menuju Titik Akhir Negosiasi: Saatnya Indonesia Bersikap Tegas di INC 5.2

  • Trending
  • Comments
  • Latest
Gaya Hidup Zero Waste Sebagai Solusi Hidup Minim Sampah

Anak Muda dan Zero Waste; Dari Perubahan Gaya Hidup Hingga Kebijakan

April 2, 2021
Budidaya Maggot BSF, Solusi Kurangi Sampah Makanan yang Bernilai Ekonomis

Budidaya Maggot BSF, Solusi Kurangi Sampah Makanan yang Bernilai Ekonomis

February 1, 2023
Permen LHK Nomor 75 Tahun 2019, Solusi Jitu Pengurangan Sampah Produsen?

Permen LHK Nomor 75 Tahun 2019, Solusi Jitu Pengurangan Sampah Produsen?

February 19, 2021
5 Rekomendasi Bulk Store Keren di Jakarta untuk Kamu!

5 Rekomendasi Bulk Store Keren di Jakarta untuk Kamu!

February 9, 2021
Gaya Hidup Zero Waste Sebagai Solusi Hidup Minim Sampah

Indonesia and Other Countries’ Efforts in Ending Plastic Pollution

7373
Pawai Bebas Plastik 2023: Dorong Pemerintah serta Produsen untuk Menghentikan Pencemaran Plastik

Pawai Bebas Plastik 2023: Dorong Pemerintah serta Produsen untuk Menghentikan Pencemaran Plastik

1371
plastic treaty

Mengungkap Solusi Palsu dalam Negosiasi Perjanjian Internasional tentang Plastik

928
Perdana, Kabupaten Gresik Akhirnya Punya Kampung Bebas Sampah Zero Waste Cities

Perdana, Kabupaten Gresik Akhirnya Punya Kampung Bebas Sampah Zero Waste Cities

98
Transformasi Pengelolaan Sampah Daerah Harus Dimulai dari Hulu, Bukan Solusi Instan Hilir

Transformasi Pengelolaan Sampah Daerah Harus Dimulai dari Hulu, Bukan Solusi Instan Hilir

April 14, 2026
Brand Audit Ungkap Dominasi Sampah Sachet Di Kota Kediri, Refill System Jadi Solusi Strategis

Brand Audit Ungkap Dominasi Sampah Sachet Di Kota Kediri, Refill System Jadi Solusi Strategis

April 9, 2026
Lonjakan Harga dan Krisis Pasokan Plastik Tunjukkan Saatnya Indonesia Beralih ke Sistem Guna Ulang

Lonjakan Harga dan Krisis Pasokan Plastik Tunjukkan Saatnya Indonesia Beralih ke Sistem Guna Ulang

April 6, 2026
Mikroplastik Ditemukan pada Otak Tikus, Bagaimana dengan Manusia?

Pembakaran Sampah Sumber Utama Mikroplastik di Udara Indonesia

March 29, 2026

Recent News

Transformasi Pengelolaan Sampah Daerah Harus Dimulai dari Hulu, Bukan Solusi Instan Hilir

Transformasi Pengelolaan Sampah Daerah Harus Dimulai dari Hulu, Bukan Solusi Instan Hilir

April 14, 2026
Brand Audit Ungkap Dominasi Sampah Sachet Di Kota Kediri, Refill System Jadi Solusi Strategis

Brand Audit Ungkap Dominasi Sampah Sachet Di Kota Kediri, Refill System Jadi Solusi Strategis

April 9, 2026
Lonjakan Harga dan Krisis Pasokan Plastik Tunjukkan Saatnya Indonesia Beralih ke Sistem Guna Ulang

Lonjakan Harga dan Krisis Pasokan Plastik Tunjukkan Saatnya Indonesia Beralih ke Sistem Guna Ulang

April 6, 2026
Mikroplastik Ditemukan pada Otak Tikus, Bagaimana dengan Manusia?

Pembakaran Sampah Sumber Utama Mikroplastik di Udara Indonesia

March 29, 2026
Aliansi Zero Waste Indonesia

Aliansi Zero Waste Indonesia | Go For Zero Waste

Follow Us

  • Facebook
  • TikTok
  • Instagram
  • YouTube
  • LinkedIn

© 2020 Aliansi Zero Waste Indonesia

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Artikel
    • Reportase
    • Siaran Pers
    • Feature
  • Publikasi
    • Laporan
    • Buletin
  • Pendekatan Zero Waste
    • Isu Strategis
      • Pengurangan Produksi Plastik
      • Penurunan Pola Konsumsi Plastik
      • Sistem Guna Ulang
      • Solusi Semu
      • Sampah Organik
    • Flagship Program
      • Zero Waste Cities and Island
      • Plastics Treaty
      • Brand Audit
      • Project Boost
      • Sekolah Ekologis
      • Project Merit
  • Tentang Kami
    • Profil Aliansi
    • Anggota
    • Dewan Pengarah
    • Sekretariat Nasional
    • Jejaring

© 2020 Aliansi Zero Waste Indonesia

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In