Siaran Pers
untuk dirilis segera
Selasa, 22 July 2025 – Aliansi Zero Waste Indonesia (AZWI) menggelar media briefing yang bertajuk “Menyoroti Peran Indonesia di INC‑5.2: Menuju Perjanjian Plastik yang Kuat dan Adil” sebagai bentuk dari persiapan menuju sesi lanjutan Intergovernmental Negotiating Committee (INC 5.2) yang akan dilaksanakan di Jenewa Swiss, pada 5 Agustus 2025 mendatang. Narasumber dari pakar lingkungan dan jurnalis senior yang menjadi observer dalam agenda negosiasi, menyoroti pentingnya posisi dan sikap Indonesia dalam perundingan global mengenai perjanjian plastik yang mesti mencakup seluruh siklus plastik dari sektor hulu hingga hilir.
Senior Advisor, Yuyun Ismawati menegaskan perjanjian global plastik seharusnya memperkuat narasi transparansi terhadap bahan kimia beracun dalam plastik dan mengutamakan, aspek kesehatan. Namun nyatanya, dalam prosesnya perjanjian plastik mengalami keterlambatan yang signifikan.
“Idealnya, text draft mengenai isu kesehatan sudah dimunculkan sejak INC ketiga, tapi karena strategi beberapa negara produsen seperti Saudi Arabia yang lebih memilih fokus pada perubahan iklim, maka diskusi tentang kesehatan tertunda hingga INC keempat,” tegas Yuyun.
Peristiwa serupa diprediksi Yuyun akan terjadi juga di INC 5.2, tantangan berat akan dihadapi para observer, terlebih saat ini diskusi pra negosiasi skala regional khususnya Asia Pasific hanya dilakukan via daring dan rencananya akan ada Ministerial Meeting yang akan digelar tiga hari penuh ditengah-tengah pertemuan negosiasi,
“Meskipun kita punya waktu sepuluh hari tapi akan terpotong tiga hari untuk Ministerial Meeting, yang sebetulnya tidak akan berpengaruh pada teks negosiasi, sebagai observer kita juga tidak diperbolehkan masuk, bahkan hanya untuk mendengarkan,” pungkas Yuyun.
Lebih jauh lagi Yuyun juga membahas dan menyoroti pentingnya beberapa pasal dalam Chair Text yang akan dijadikan pertimbangan dalam proses negosiasi, diantaranya Pasal 5 (sektor prioritas bebas zat berbahaya), Pasal 6 (produk berkelanjutan), Pasal 7 (emisi dan pelepasan), hingga Pasal 19 (aspek kesehatan), yang harus diperjuangkan agar tak kehilangan substansi dalam dokumen akhir perjanjian.
Kekhawatiran mengenai sikap Indonesia dalam proses negosiasi INC 5.2 juga disampaikan oleh Ibar Akbar selaku Zero Waste Campaigner dari Greenpeace Indonesia. Dalam hal ini Ibar menyoroti ketidakselarasan antara pernyataan pemerintah dalam negeri yang terkesan vokal menyuarakan pengurangan produksi plastik sementara sikap delegasi Indonesia di INC-5 dan UN Ocean Summit terlihat netral bahkan pasif.
“Indonesia terlihat netral bahkan pasif dalam forum seperti INC-5 di Busan dan UN Ocean Summit. Padahal semangat Menteri LH di dalam negeri sangat kuat menyoroti pengurangan produksi plastik,” ungkap Ibar.
Ibar juga menyayangkan sikap Indonesia yang belum menunjukan komitmen nyata terhadap sistem Extended Producer Responsibility (EPR). “Apabila Indonesia serius menangani pengurangan plastik, peta jalan dan regulasi bisa lebih menyasar pengurangan dari sumber bukan hanya daur ulang,” tambahnya.

Ikut menyoal isu pengurangan sampah plastik Deputy Director Dietpastik Indonesia, Rahyang Nusantara menyoroti minimnya perhatian terhadap sistem guna ulang (reuse) dalam perundingan sebelumnya. “Negara-negara seperti Filipina dan Bangladesh mulai dorong isu reuse, tapi dukungan masih lemah,” ujarnya.
Rahyang menjelaskan bahwa Dietplastik telah mengirimkan urgensi penguatan regulasi guna ulang kepada pemerintah beberapa waktu lalu. Rahyang berharap pemberlakuan sistem guna ulang bisa berlaku di sektor bisnis lain seperti sektor rumah tangga, kosmetik hingga makanan.
Rahyang menilai Indonesia sebenarnya bisa menjadi negara pelopor sistem reuse, terbukti saat ini sudah banyak berkembang start-up yang mengusung konsep guna ulang dan telah lama menjalin kerjasama dengan Dietplastik Indonesia seperti Alner, Kecipir, dan BALIKIN.
Sebagai langkah nyata, Rahyang juga mengumumkan peluncuran Asosiasi Guna Ulang pada 25 Juli di Senayan, sebagai upaya membangun ekosistem reuse yang lebih solid dan terkoordinasi dalam satu wadah asosiasi. “Ekonomi bersih reuse harus didorong. Biaya eksternal akibat sachet dan plastik sekali pakai termasuk biaya kesehatan bisa jauh lebih mahal,” jelas Rahyang.
Upaya mendorong pemerintah agar lebih aktif menyikapi pengurangan sampah produksi plastik dalam negosiasi INC 5.2 juga perlu peran media. Jurnalis Senior Kompas Ahmad Arif menyampaikan keprihatinannya terhadap minimnya liputan media nasional mengenai dampak struktural dan kebijakan soal plastik.
Pada negosiasi sebelumnya di Busan Korea selatan, sikap Indonesia dinilai pasif dalam menanggapi isu pengurangan plastik, berbanding terbalik dengan pemberitaan yang disuguhkan kepada masyarakat “Sudah banyak liputan mengenai isu sampah plastik, namun narasi mengenai upaya penanganan dan pengurangan sampah masih jarang dilakukan peliputan,” kata Arif.
Arif juga menyayangkan narasi media yang tidak sesuai dengan realitas saat negosiasi INC-5 di Busan Korea Selatan. Minimnya pemberitaan yang berimbang disebabkan oleh rendahnya keberpihakan media serta jumlah rilis dari organisasi masyarakat sipil yang masih kalah banyak dibandingkan dengan yang dikeluarkan oleh pemerintah. Hal ini berkontribusi pada ketimpangan informasi di lapangan
Arif juga sempat mengutarakan kekecewaannya secara langsung pada negosiasi terakhir di Busan dengan merilis narasi berjudul “Pada Akhirnya Indonesia tidak memilih Planet, namun memilih plastik” yang dimuat di halaman khusus Media Kompas. Tulisan ini menuai respons signifikan dari berbagai kalangan, terutama dari pihak pemerintah. Hal ini menunjukkan bahwa media memiliki peran penting dalam mengawal dan mengkritisi posisi Indonesia dalam perundingan global.
Agar hal yang sama tidak terulang, menjelang INC-5.2 di Jenewa Swiss tanggal 5 Agustus nanti jaringan masyarakat sipil seperti Aliansi Zero Waste Indonesia (AZWI) wajib berkolaborasi dengan para jurnalis agar informasi di lapangan bisa tersampaikan.
-Selesai-
dokumentasi dapat diunduh disini
Narahubung:
Kia, Comms Officer AZWI
Email: kia@aliansizerowaste.id
Telepon: 0852 1580 9537
Tentang Aliansi Zero Waste Indonesia (AZWI)
Aliansi Zero Waste Indonesia (AZWI) adalah jaringan organisasi yang mengkampanyekan implementasi konsep zero waste yang benar melalui berbagai program dan inisiatif. AZWI berkomitmen untuk mendorong kebijakan dan praktik pengelolaan sampah yang berkelanjutan berdasarkan prinsip hirarki pengelolaan sampah dan siklus hidup material.
Website: aliansizerowaste.id













