SURAKARTA – Pasar Jebres di Kota Surakarta kini tak lagi sama. Berkat program “Pasar Minim Sampah” yang diinisiasi oleh Yayasan Gita Pertiwi bersama Aliansi Zero Waste Indonesia (AZWI), pasar tradisional ini berhasil menunjukkan perubahan signifikan hanya dalam beberapa bulan. Praktik-praktik baik yang diterapkan tidak hanya sukses mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, tetapi juga mampu menyelamatkan puluhan kilogram pangan yang nyaris menjadi sampah setiap harinya.
Program yang dimulai sejak April 2024 ini menjadi jawaban atas masalah timbulan sampah pasar yang berkontribusi pada beban Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Putri Cempo yang sudah kelebihan muatan. Data riset baseline menunjukkan Pasar Jebres sebagai salah satu pengguna kantong plastik sekali pakai (KPSP) tertinggi di antara lima pasar yang disurvei di Solo, dengan rata-rata 83 lembar per pedagang setiap harinya.
Awalnya, program ini berfokus sebagai “Pasar Bebas Plastik”. Namun, temuan di lapangan mengubah arah strategi. “Melihat kondisi timbulan sampah yang lebih dominan sayuran sisa, maka fokus program pasar tidak hanya pada pengurangan plastik, namun juga pada jumlah sampah yang masuk ke TPA termasuk sampah organik,” demikian terungkap oleh Alfian. Hasil observasi mengkonfirmasi bahwa sampah organik mendominasi hingga lebih dari 50% dari total sampah harian di Pasar Jebres.
“Keranjang Pangan Berlebih”: Dari Sampah Menjadi Berkah
Salah satu inovasi paling berdampak dari program ini adalah “Keranjang Susut dan Sisa Pangan”. Melalui tiga keranjang yang disediakan, para pedagang secara sukarela mengumpulkan sayur dan buah yang tidak terjual namun masih sangat layak dikonsumsi.

Hasilnya luar biasa. Rata-rata 28 kilogram pangan berhasil diselamatkan setiap hari. Pangan bergizi ini kemudian didistribusikan kepada kelompok yang membutuhkan, seperti Panti Griya PMI, Panti Laras Utami, Paguyuban Pemulung Putri Cempo, dan masyarakat di Kelurahan Pucangsawit.
“Dengan semua pengelolaan ini, hanya sampah residu atau sisa campuran saja yang akhirnya perlu diangkut ke TPA,” ungkap Alfian dari Gita Pertiwi. Praktik ini tidak hanya mengurangi sampah makanan, tetapi juga menjadi ladang amal bagi para pedagang.
Plastik Berkurang, Kesadaran Bertambah
Upaya mengurangi sampah plastik juga membuahkan hasil positif. Melalui serangkaian edukasi dengan jambret plastik sekali pakai, kampanye kreatif, hingga pembagian tas belanja guna ulang, konsumsi kantong plastik sekali pakai (KPSP) oleh pedagang berhasil ditekan.
Laporan riset endline mencatat adanya penurunan konsumsi KPSP sebesar 14%, dari rata-rata 83 lembar menjadi 71 lembar per pedagang per hari. Dua jenis plastik yang paling sering digunakan adalah plastik bening dan kantong plastik kresek.
Meski demikian, jalan menuju pasar yang sepenuhnya bebas plastik masih panjang. Edukasi perlu terus dilakukan agar terbiasa untuk membatasi penggunaan plastik dan beralih pada kantong/kemasan yang lebih ramah lingkungan seperti penerapan system guna ulang.
Tantangan dan Harapan ke Depan
Meskipun praktik baik telah bermunculan, pengelolaan sampah secara umum di Pasar Jebres perlu di optimalkan lagi. Delapan titik bin sampah yang tersedia masih menampung sampah yang tercampur antara organik, anorganik, dan residu. Selain itu, belum ada kebijakan tertulis yang spesifik dari pemerintah kota terkait pembatasan plastik di Kota Surakarta.
Namun, dukungan juga datang dari para pedagang itu sendiri. Dari hasil riset endline mayoritas besar pedagang (78,6%) menyatakan bersedia jika ada kebijakan pembatasan plastik, dengan syarat penting: tersedianya solusi alternatif yang efektif dan terjangkau, serta tidak adanya denda. Selain itu Gita Pertiwi juga mendorong pemerintah terutama Dinas Perdagangan, petugas pasar, dan pedagang, adanya praktik pemilahan di Pasar Jebres dan mendorong adanya perwali untuk pembatasan plastik sekali pakai dan pemilahan dari sumber di Kota Surakarta.
Praktik baik Pasar Jebres adalah bukti bahwa dengan kolaborasi dan pendekatan yang tepat, pasar tradisional mampu bertransformasi menjadi ruang ekonomi yang lebih ramah lingkungan, sekaligus memperkuat solidaritas sosial. (Gita Pertiwi)













