JAKARTA, 27 Februari 2026 – Di tengah meningkatnya timbulan sampah plastik akibat dominasi produk sekali pakai, Asosiasi Guna Ulang Indonesia (AGUNI) bersama Aliansi Zero Waste Indonesia (AZWI) mendorong percepatan transisi menuju sistem guna ulang (reuse) sebagai solusi hulu dalam pengelolaan sampah di Indonesia. Kedua jaringan ini menilai bahwa krisis sampah tidak dapat diselesaikan hanya melalui pengolahan di hilir, melainkan harus dimulai dengan mengurangi timbulan sampah sejak tahap produksi dan konsumsi.
Sistem Guna Ulang dipandang sebagai pendekatan strategis karena mampu mencegah sampah sebelum terbentuk, sekaligus membuka peluang model ekonomi baru yang lebih sirkular dan berkeadilan. Dalam kerangka hirarki pengelolaan sampah dan prinsip ekonomi sirkular, guna ulang berada di atas daur ulang karena mempertahankan fungsi produk tanpa melalui proses pengolahan ulang yang panjang dan berenergi tinggi.
AGUNI: Reuse Bukan Alternatif, Tapi Sistem Baru
Manager Program Dietplastik sekaligus perwakilan AGUNI Sarah Rauzana, menegaskan bahwa setelah berbagai kebijakan pembatasan plastik sekali pakai diterapkan, langkah berikutnya adalah memastikan sistem penggantinya benar-benar tersedia.

“Dalam hierarki 9R, reuse diprioritaskan di atas daur ulang karena mencegah sampah sejak awal. Sistemnya bisa melalui refill maupun return, dengan desain kemasan dan sistem yang memenuhi standar kebersihan. Ini adalah strategi pencegahan dari hulu,” ujar Sarah dalam agenda Reuse Tour AZWI bersama AGUNI beberapa waktu lalu.
Melalui pengembangan Reuse Infrastructure Grid, AGUNI bersama mitra membangun ekosistem guna ulang yang mencakup fasilitas pencucian terpusat, titik pengembalian wadah, sistem logistik, serta protokol guna ulang yang memastikan keamanan dan efisiensi operasional.
Model Bisnis Reuse Mulai berjalan
Implementasi Guna Ulang sejatinya bukan lagi sebatas konsep. Alner menghadirkan platform ritel sirkular yang mendistribusikan produk rumah tangga dalam kemasan guna ulang yang dapat dikembalikan dan digunakan kembali berkali-kali.
Bintang Ekananda, CEO dan Founder Alner, menjelaskan bahwa pendekatan ini mengubah cara pandang terhadap kemasan.
“Kami ingin menghapus ide kemasan sekali pakai. Di Alner, kemasan adalah aset yang terus berputar. Setiap wadah dilacak siklusnya sehingga dampak pengurangan sampah bisa diukur secara nyata,” jelas Bintang.
Model ini telah melibatkan ribuan konsumen, ratusan mitra usaha kecil, serta puluhan merek produk, sekaligus menghindari jutaan kemasan sekali pakai. Praktik serupa juga terlihat pada toko ’Zero’ di Fresh Market Bintaro yang menerapkan sistem curah dan wadah guna ulang sebagai alternatif belanja minim sampah.

Selain praktik minim sampah, toko ini juga mendukung pengembalian kemasan dari produsen kemasan. Di dalamnya tersedia dropbox agar konsumen mengembalikan kemasan bekas untuk disetor ke mitra daur ulang. Inisiatif ini tidak hanya membantu memastikan kemasan dikelola dengan lebih baik, tetapi juga meningkatkan kesadaran konsumen untuk mengembalikan kemasan setelah digunakan, sekaligus mendorong produsen menjalankan tanggung jawabnya melalui skema Extended Producer Responsibility (EPR).
Dukungan Pemerintah: Pengelolaan Sampah Tidak Punya Jurus Tunggal
Koordinator Pokja Tata Laksana Produsen di Deputi Bidang Pengelolaan Sampah, Limbah, dan B3, Ujang Solihin Sidik, menegaskan bahwa pengelolaan sampah harus mengikuti hirarki dan tidak bisa hanya mengandalkan teknologi pengolahan. Menurutnya, dalam pengelolaan sampah tidak ada jurus tunggal.
“Guna ulang adalah bagian utama dalam konteks implementasi ekonomi sirkular. Kementerian PPN/Bappenas sudah memiliki roadmap jangka panjang ekonomi sirkular. Dalam hirarki pengelolaan sampah, guna ulang berada lebih tinggi dibandingkan daur ulang. Jika daur ulang masih membutuhkan bahan baru dan proses yang panjang, guna ulang memiliki sirkularitas yang lebih jelas karena tidak memerlukan rantai pemrosesan sepanjang daur ulang,” ujarnya dalam agenda Reuse Tour yang sama.

Ujang menambahkan bahwa penerapan guna ulang perlu dipetakan berdasarkan sektor bisnis yang relevan. Pemerintah, misalnya, mendorong sektor FMCG untuk mulai menerapkan kemasan guna ulang pada produk-produknya. Selain itu, sektor hotel dan restoran juga memiliki peluang besar menerapkan guna ulang, terutama dengan memastikan layanan dine-in menggunakan peralatan makan guna ulang.
“Sektor lain yang sangat potensial adalah bisnis event. Jika setiap acara besar tidak memiliki protokol guna ulang, maka sampah kemasan sekali pakai akan terus bertambah. Karena itu penerapan sistem guna ulang dalam kegiatan event penting untuk mencegah timbulan sampah baru,” tambahnya.
Transisi Ekosistem Menuju Reuse Jadi Kunci Untuk Menekan Sampah Plastik
Aliansi Zero Waste Indonesia (AZWI) menegaskan bahwa penguatan ekosistem guna ulang merupakan bagian penting dari agenda advokasi hulu untuk menekan produksi dan konsumsi plastik sekali pakai di Indonesia.
Sebagai koalisi yang terdiri dari sembilan organisasi lingkungan, AZWI mendorong sejumlah langkah strategis, mulai dari pembatasan produksi plastik sekali pakai, penguatan tanggung jawab produsen melalui penerapan Extended Producer Responsibility (EPR) yang nyata, hingga pengembangan dan standarisasi sistem guna ulang yang dapat diterapkan secara luas.

Kolaborasi antara Asosiasi Guna Ulang Indonesia (AGUNI) sebagai penggerak ekosistem guna ulang, praktik bisnis seperti yang dikembangkan oleh Alner, serta dukungan kebijakan pemerintah menunjukkan bahwa sistem guna ulang bukan lagi sekadar konsep, melainkan solusi yang mulai terbangun di lapangan.
Ke depan, AZWI menilai transformasi pengelolaan sampah di Indonesia harus bergerak lebih kuat dari hulu, tidak hanya berfokus pada pengolahan sampah setelah terbentuk, tetapi juga mengurangi produksi sampah sejak awal. Tanpa perubahan pada sistem produksi dan konsumsi, krisis sampah plastik akan terus berulang. Karena itu, penguatan reuse menjadi salah satu langkah kunci untuk mendorong perubahan tersebut.













