Plastik menjadi isu yang menarik perhatian dunia akibat dampak yang ditimbulkan semakin memperparah lingkungan dan makhluk hidup. Setidaknya 855 milyar plastik saset dibuang setiap tahunnya dan menjadi ancaman bagi lingkungan dan manusia. Salah satunya adalah plastik saset; plastik satu- hingga multilapis yang dikhususkan sebagai kemasan sekali pakai berukuran kecil. Kemudahan yang diberikan, seperti murah, praktis, dan bermanfaat untuk penduduk berpenghasilan rendah, membuat orang-orang menghiraukan dampak buruk yang dapat ditimbulkan. Pencemaran plastik saset telah menjadi perhatian dunia disebabkan oleh konsumsi yang begitu masif dan sulitnya penanganan sampah plastik saset.
Ancaman bermula dari kesadaran bahwa plastik tidak mudah untuk terurai dan berakhir dengan kemampuan senyawa pembentuknya bermigrasi ke lingkungan. Fenomena migrasi ini membuat para peneliti mempelajari plastik dengan lebih komprehensif selama satu dekade terakhir. Disebabkan oleh tidak adanya pengolahan sampah plastik saset yang aman menjadikan keberadaan senyawa kimia yang terikat pada saset perlu perhatian yang tinggi. Senyawa senyawa yang membentuk plastik beragam dan disesuaikan dengan karakteristik plastik yang diinginkan, seperti karakteristik anti air atau fleksibilitas. Terdapat beberapa senyawa yang sering digunakan sebagai bahan resin dan/atau aditif pada plastik, diantaranya PFAS, Senyawa Penahan Api (Flame Retardant), Bisphenol A, dan Phtalates.
PFAS digunakan secara luas sebagai anti air dan anti-lemak pada kemasan makanan. Sementara senyawa penahan api – seperti PBDE – umumnya ditambahkan ke dalam elastomer plastik tahan panas, material kemasan, dan produk-produk rumah tangga. Mengingat kondisi polusi plastik global, senyawa-senyawa tersebut akan sangat berbahaya jika terdapat dalam plastik saset. Karena kehadirannya berisiko untuk mengkontaminasi rantai makanan dan lingkungan kita sekarang dan di masa depan. Belum banyak penelitian yang melakukan pengujian keberadaan PFAS dan Senyawa Penahan Api (PBDE) pada kemasan plastik saset, khususnya di Indonesia.
Oleh karena itu, laporan ini diharapkan dapat memperkaya informasi terkait keberadaan senyawa-senyawa tersebut dalam kemasan plastik saset yang dapat ditemukan sehari-hari.













